INSPIRASIAndSEMANGAT MUSLIM MUDA

thumb2

Menjamu Ramadhan

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"
(QS-Baqarah: 183)

Tamu mulia kembali bertandang. Ramadhan dengan segenap pesan takwa yang ada di dalamnya, kembali menjumpai kita. Ada kegembiraan yang membuncah, suka cita yang hadir saat kita kembali memasuki gerbang bulan yang mulia ini. Kadang, terselip pula haru, teringat pada sanak saudara, kawan, dan sahabat yang di Ramadhan lalu masih dapat bersahur dan berbuka bersama, namun di tahun ini ternyata tidak lagi dapat turut menjalankan aktivitas yang serupa. Ya, sebab segala sesuatu memiliki akhirnya masing-masing.

Ramadhan. Satu bulan dari bulan-bulan yang lain, yang dipilih oleh Allah sebagai momentum khusus untuk ‘mengisi-ulang’ keimanan. Di dalam Ramadhan, pahala dilipatgandakan, amal kebaikan dimudahkan, dan kemaksiatan dihindarkan. Ramadhan, bulan yang mulia dimana kita diajak untuk merasakan lapar dan dahaga, merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang tak berpunya. Ramadhan, sebuah madrasah sebulan penuh, tempat kita berusaha menahan lisan yang kadang lebih tajam dari pedang, untuk terus mengusahakan hal yang sama selepas Ramadhan berakhir, hingga seterusnya. Ramadhan, saat masjid-masjid menjadi lebih ramai dari biasanya. Saat senandung ayat Al Qur’an memantul-mantul di dinding-dinding setiap rumah. Saat penganan manis berbuka dibagi-bagikan kepada tetangga; salah satu cara agar silaturahim terjaga. Saat sedekah kita upayakan mengalir bagai embusan angin, semata mencontoh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam. Ramadhan ajarkan kita, bahwa kebaikan memang tidak sesulit yang kita kira.

Duhai, di belahan bumi lainnya, saudara-saudara kita turut menjamu Ramadhan dengan segala keterbatasan. Ada yang harus bersabar dengan konflik di negaranya. Ada pula yang harus menjaga puasa bahkan sembari menjaga nyawanya. Di Somalia sana, seorang saudara kita bertanya pada Syaikh; Apakah puasa kami tetap sah meski tak kami miliki sesuatu pun  untuk sahur dan buka? Subhanallah, bukankah telah teramat nyaman kondisi yang Allah takdirkan untuk kita?

Ramadhan, mengapa ia tidak terjadi sepanjang tahun saja? Mengapa saat kita menatapi hilal di awal bulannya, nyatanya akan datang pula hilal yang akan menandai berakhirnya? Begitu nikmat ber-Ramadhan yang penuh dengan keindahan ini. Namun, seperti segala hal lainnya, ia juga memiliki batasan akhir. Ramadhan tidak akan berlangsung selamanya; kecuali kita yang mengusahakan semangatnya tetap bergelora, sepanjang masa. Ramadhan akan berpisah dengan kita, tanpa pernah ada jaminan bahwa akan kita temui ia di tahun berikutnya. Ah, Ramadhan...

Dunia yang fana ini, adalah serupa pohon rindang tempat seorang musafir berdiam sejenak untuk kumpulkan kekuatan. Setelah itu, perjalanan panjang akan kembali diteruskan. Dunia ini, jika bukan ia yang tinggalkan kita, maka kita yang akan meninggalkannya. Bagaimana jika, ternyata ini adalah Ramadhan terakhir kita?

Bagaimana jika inilah Ramadhan terakhir kita, sementara mata yang terlelap lebih panjang durasinya dibanding ibadah yang penuh khusyuk dan taat? Bagaimana jika kita tak jumpa lagi dengan Ramadhan, sementara kini puasa tidak menahan lisan dan prasangka kita dari hal-hal yang tercela? Bagaimana jika Ramadhan tidak akan lagi menjadi tamu kita, sementara hati ini masih terlalu berat cintanya pada dunia, terlalu sedikit mengingatNya dalam berdiri, duduk, dan berbaring kita? Bagaimana jika, inilah Ramadhan terakhir kita, Ramadhan yang masih saja kita sia-siakan setiap detiknya?

Ramadhan, sungguh kami terhijabi dari takdir kapan usia ini akan selesai. Jangankan berjumpa dengan Ramadhan di tahun mendatang, menyelesaikan Ramadhan tahun ini hingga ujungnya pun masih kami sangsikan. Sungguh meruginya kami jika ternyata esok mata ini tidak dapat lagi merasakan kehangatan bersahur, keteduhan shaum, nikmatnya berbuka,  syahdunya qiyamullail, dan merdunya tilawah. Saat rasa malas dalam ketaatan itu kembali datang, duhai betapa lebih baiknya jika kami mengingat kembali, betapa besarnya nikmat berpisah dengan dunia dalam keadaan taat. Dan betapa ruginya jika ternyata maksiat menandai akhir perjalanan. (AR)

Continue reading

thumb2

Mencinta Lelaki Istimewa

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim



Mencinta Lelaki Istimewa

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Apa kabar, Shohib AF?      

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua, terutama sebab telah memperjumpakan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah! Bagaimana Ramadhanmu, Shohib? Semoga tetap semangat ya!

Yup, mengawali Ramadhan kali ini, kemarin AF baru saja meluncurkan edisi terbaru lho! Alhamdulillah... Tepat di hari kedua event Daurah Ramadhan Muslimah yang dirangkaian dengan Tabligh Akbar di Gedung LAN Antang Makassar kemarin, AF turut serta memeriahkan suasana dengan edisi terbaru: Mencinta Lelaki Istimewa!

Hmm.., beberapa Shohib yang sempat AF tawarkan pada saat itu, tidak sedikit yang bertanya-tanya dan punya komentar yang seru-seru bahkan saat baru mendengarkan judul majalahnya! 

“Lelaki istimewa? Siapa tuh...?”
“Mencinta lelaki istimewa? Duh, malu...”
“Hmm.., saya sudah punya lelaki istimewa kok!”


Nah, siapa yang bisa tebak siapa ‘Lelaki Istimewa’ yang AF maksud? Yup, benar sekali! Tidak lain dan tidak bukan adalah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam. Edisi kali ini, AF mengangkat semangat cinta-Rasul yang tentunya harus didasari dengan ilmu. Jangan sampai kecintaan kita kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam ternyata bertepuk sebelah tangan karena kita salah dalam mengaplikasikannya. Setelah di edisi sebelumnya mengangkat tema seputar keikhlasan, kali ini AF melengkapi pembahasannya dengan tema seputar meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ikhlas dan ittiba’urrasul; lengkap sudah dua syarat diterimanya ibadah! (^_^)/

Selain mengupas tentang cara tepat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, AF dengan sampul pinky-pinky ini juga memuat rubrik menarik lainnya lho! Ingin menengok bagaimana Islam di Perancis? Yuk, ikuti reportase kontributor AF di rubrik Travelling Cahaya. Beralih ke Benua Asia, ada cerita seru dan menegangkan dari pelajar di Negeri Sakura, simak di Cerita Kamu! Pernah dengar tentang penaklukan Eropa oleh kaum muslimin di masa lampau? 

Yuk, ikuti sepak terjang Abdurrahman al Ghafiqi di rubrik Potret! Nah, yang mahasiswa di Makassar mana suaranya?! Kali ini rubrik Inspirasi jalan-jalan ke Masjid Umar bin Khattab di Universitas Muslim Indonesia Makassar bersama LDK Ashabul Kahfi. Dan rubrik-rubrik menarik lainnya yang sayang jika kamu lewatkan!

So, lengkapi koleksi Majalah Al Firdaus kamu, jadilah bagian dari perjalanan kami dalam mengobarkan semangat dakwah bil qalam! Allahu Akbar! (AR) 

Continue reading

thumb2

Ingin Mengatakan Cinta?

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim

KATAKAN CINTAMU SECARA HAKIKI

DEFINISI CINTA
  1. Al mahabbah makna asalnya adalah bening dan bersih. Layaknya bening untuk gigi yang putih.
  2. Al habbab yaitu air yang meluap setelah turun hujan yang lebat. Layaknya luapan hati dan gejolaknya saat dipenuhi keinginan untuk bersama dengan yang dicinta.
  3. Imam Al Ashfahani mengatakan Cinta adalah daya tarik jiwa terhadap sesuatu yang kita sangat menginginkannya.
  4. Al kafawi mengatakan cinta adalah suatu ungkapan rasa condong hati kita terhadap sesuatu yang menyenangkan.

KEPADA SIAPA CINTA BERLABUH?
ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

BILA CINTA DATANG PADA WAKTU YANG BATIL
Maka anak manusia akan terkena suatu penyakit yang dinamakan MABUK CINTA.




BILA HATI DIMABUK CINTA
  • Ibnu Taimiyah berkata Al Isyq yaitu rusaknya perasaan, khayal dan pengetahuan. Sebab orang yang dimabuk cinta selalu mengkhayalkan orang yang dicintainya berbeda dengan yang sebenarnya hingga akhirnya dia tertimpa penyakit ini.
  • Penyakit Al Isyq adalah kegelisahan atau gejolak hati yang kosong.
  • Penyakit Al Isyq merupakan bentuk kebodohan yang datang tepat ketika hati dalam keadaan kosong tanpa diisi kesibukan memikirkan perkara akhirat.

BAHAYA MABUK CINTA
  • Ibnu Taimiyah berkata mabuk asmara dapat membuat penderitanya kurang akal dan ilmu, rusak agama dan akhlaknya, lalai akan seluruh kebaikan agama dan dunia.
  • Salah satu jenis gila adalah mabuk asmara.
  • Mabuk cinta seperti samudra tak bertepi, dua manusia akan dipermainkan oleh derasnya gelombang ombak yang akan menenggelamkan mereka.
  • Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Terjemahan QS. Yusuf ayat 24). Maksud Kemungkaran adalah Al Isyq dan Kekejian adalah zina.

STOP MABUK CINTA!!
  1. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Israa ayat 32)
  2. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah dan hati zinanya yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan/direalisasikan oleh kelamin atau digagalkannya”. (HR. Bukhari)

TERAPI MABUK CINTA
  1. Kembali kepada Allah Ta’ala. Sungguh apabila hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepadaNya, maka tidak ada yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik darinya.
  2. Do’a dan dzikir kepada Allah. Secara tulus menyerahkan diri dan memohon hati suci, bening dan tentram kembali kepada-Nya dengan segala kerendahan.
  3. Menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat. Berkumpul bersama orang-orang shaleh, menghadiri tarbiyah, pengajian umum, tabligh akbar, dsb.
  4. Menahan pandangan dan menjauh dari fitnah. “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampkkkan perhiasannya...” (Terjemahan QS. An Nuur : 31)
  5. Menikah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menekan syahwatnya”. (HR. Bukhari)

INGIN MENGATAKAN CINTA?
  1. “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Al Bukhari)
  2. “Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari)
  3. “Apabila seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR. Abu Daud)
  4. Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata, Ada seorang laki – laki duduk di hadapan Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, kemudian ada seseorang yang lewat disitu, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.’ Nabi bertanya, ‘Apakah kamu sudah memberitahunya?’ Dia menjawab, ‘Belum.’ Beliau bersabda, ‘Beritahukanlah padanya!’ Kemudian dia menemui orang itu dan berkata, ‘Sesungguhnya saya mencintaimu karena ALLAH.’ Lalu orang tersebut menjawab, ‘Semoga kamu dicintai oleh Dzat yang menjadikanmu mencintaiku karenaNya.’ (HR. Abu Daud)
  5. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, Sesungguhnya ada seseorang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian ALLAH Ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya. Setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya, ‘Hendak kemanakah kamu?’ Ia menjawab, ‘Saya hendak berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.’ Malaikat itu bertanya lagi,’ Apakah kamu merasa berhutang budi padanya sehingga merasa perlu mengunjunginya?’ Laki – laki itu lalu menjawab, ‘Tidak, aku mengunjunginya semata karena aku menncintainya karena ALLAH Ta’ala.’ Malaikat kemudian berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan ALLAH untuk menjumpaimu dan ALLAH mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena ALLAH.’ (HR. Muslim)
  6. “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata”. (HR. Bukhari Muslim)
Continue reading

thumb2

Syarah Hadits Halal, Haram dan Syubhat

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Teman-teman, izinkan saya share tentang syarah (pembahasan) salah satu hadits dari Kitabul Jami' pada Bab 3. Materinya disampaikan oleh Dr. An Nuurah (seorang dosen wanita dari Timur Tengah) dalam sebuah kesempatan muhadharah.

Hadits yang dibahas ada dalam Kitabul Jami', salah satu bagian dari Kitab Bulughul Maram oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani. Pada Bab 3 hadits pertama. Kita simak haditsnya dulu ya.

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya.Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah jantung.”
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)


Pada dasarnya, Allah telah menyempurnakan agama ini (Lihat QS. 5 ayat 3), dan Rasulullah Shallalahu '‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya dengan jelas dalam hadist berikut.

“Perkara agama ini sudah sangat jelas, malamnya seterang siangnya.”
(Lihat: HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim).

Maka tidak akan sesat, kecuali orang-orang yang tersesat.



Lalu mengapa ada orang-orang yang menganggap suatu perkara sebagai syubhat (samar-samar) baginya? Mengapa pula kadang ada perkara yang ulama berbeda pendapat atasnya?

Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan pendapat ini, di antaranya adalah
[1] Sampainya dalil pada seorang ulama,dan tidak sampai pada ulama lainnya. Hal ini menyebabkan perbedaan pandangan. Ini terjadi di masa lalu, saat ketersebaran kitab-kitab yang dituliskan tidak semudah saat ini.

[2] Terdapat 2 dalil, yakni halal dan haram, sementara belum sampai padanya tentang ilmu nasakh dan mansukh. Misalnya tentang adanya dalil tentang larangan ziarah kubur,lalu ada dalil lain yang datang kemudian, yang menghapuskan larangan ini. Tidak sampainya dalil bahwa dalil sebelumnya sudah dihapuskan, dapat menyebabkan perbedaan pendapat dalam hal ini.

[3] Adanya dalil yang bersifat umum, sehingga para ulama berbeda dalam memahaminya.

[4] Adanya perintah dan larangan dari Rasulullah Shallallahu 'alahi wa sallam, terkadang suatu larangan dimaknai sebagai hal yang 'haram' namun ada pula yang menganggapnya hanya bersifat makruh. Begitupula dengan perintah, kadang shahabat memahaminya sebagai wajib dan yang lain menganggap tidak. Maka saat menghadapi perkara seperti ini, perlu bagi kita untuk berilmu mengenai mana perkara yang paling benar dan kuat landasannya. Imam Ahmad menjelaskan bahwa syubhat adalah sesuatu yang berada di antara halal dan haram.

Makna perkataan Kebanyakan manusia tidak mengetahuinyaadalah bahwa sebagian besar manusia tidak dapat menentukan apakah perkara tersebut. Apakah perkara tersebut halal atau haram. Namun tetap ada manusia yang mengetahui halal/haramnya perkara tersebut karena ia berilmu. Maka saat seseorang berilmu, baginya perkara tersebut tidak lagi bersifat syubhat (samar), meski kebanyakan orang menganggapnya demikian.

Ada beberapa jenis manusia dalam menghadapi perkara syubhat ini. Berikut penjelasannya :
PERTAMA; manusia yang berilmu tentang perkara tersebut, sehingga baginya, hal itu bukan lagi termasuk syubhat. Masya Allah, mari berilmu!

KEDUA; Manusia yang tidak berilmu tentangnya, baginya perkara itu bersifat samar (syubhat), maka ia memilih untuk meninggalkannya. Orang-orang yang meninggalkan perkara tersebut telah menjaga agama dan kehormatannya, karena khawatir terjatuh pada perkara yang haram.

KETIGA; Manusia yang terjatuh pada perkara yang syubhat itu, jenis yang ketiga ini terbagi lagi menjadi 3 kelompok.
(a) Perkara itu sebenarnya telah jelas bagi dirinya (bukan syubhat), namun masih merupakan perkara syubhat bagi orang lain. Maka dalam hal ini ia menjelaskan perkara tersebut pada orang lain agar tidak menyebabkan kesalahpahaman. 

Pada poin ini diberikan contoh tentang kisah Rasulullah Shallalahu '‘alaihi wa sallam yang suatu malam sedang beri'tikaf di masjid. Lalu pada malam itu,datanglah istri beliau, Shafiyyah Radhiyallahu 'anha, ke masjid tersebut, lalu keduanya jalan beriringan. Shafiyyah menggunakan niqab menutupi wajahnya,sehingga beliau hanya dikenali oleh Rasulullah Shallalahu ‘‘alaihi wa sallam. Sementara kala itu, ada dua shahabat lain yang menyaksikan keduanya jalan berdua tanpa mengetahui siapa wanita tersebut. Maka Rasulullah Shallalahu ‘‘alaihi wa sallam langsung menjelaskan pada kedua shahabat itu bahwa yang beliau temani tersebut adalah Shafiyyah, istrinya.

Tentu, shahabat tidak mungkin berprasangka buruk pada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam, kan? Tanpa dijelaskan apa-apa pun, mereka pasti tidak akan berpikir yang bukan-bukan. Namun kenapa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam tetap jelaskan? Ya, sebab meski perkara itu bukanlah syubhat bagi dirinya, namun bisa saja menjadi keraguan pada diri orang lain yang melihatnya. Sebab syaithan mengalir pada pembuluh darah manusia, dan siap membisikkan prasangka kapan saja, maka cegahlah!

Ini bukan tentang takutnya kita pada pendapat manusia, atau sibuknya kita agar selalu terlihat sempurna. Bukan! Ini adalah sebuah cara untuk mencegah fitnah, sebab kadang asap pun muncul meski tak ada api. Nah! Maka semoga Allah rahmati kita, dan menghitungnya sebagai sedekah, sebab usaha kita untuk mencegah orang lain dari ghibah tentang kita.

[b] Manusia yang menganggap sebuah perkara sebagai syubhat, lalu ia bertanya pada ulama tentang fatwa tersebut sehingga jelaslah kehalalan perkara itu.

[c] Manusia yang menganggap suatu perkara syubhat, lalu ia terjatuh padanya, tidak memperhatikannya,tidak menjaga agama dan kehormatannya.

Nah, dengan demikian, sebenarnya perkara syubhat ada 2 kemungkinan, bisa saja dia sebenarnya haram, tapi bisa jadi pula halal. Lalu kenapa dalam hadits ini dikatakan bahwa orang yang mengerjakan syubhat akan jatuh-pada-perkara-haram, padahal masih ada kemungkinan halal?

Di situlah letak kehati-hatian itu! Sebab orang-orang yang terbiasa mengerjakan perkara yang belum jelas baginya akan terbiasa melakukan hal yang sama terus menerus, saat hadapi perkara syubhat, ia kerjakan saja, tanpa ada perhatian untuk berilmu. Jika sudah terbiasa begitu, maka lama kelamaan ia akan terjatuh pada perkara yang haram itu. Makanya lebih baik kita berhati=hati.

Di sisi lain, tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang bisa mengetahui isi hati manusia lainnya. Maka kita harus bisa jujur pada hati kita sendiri, apakah suatu perkara benar-benar syubhat dan belum jelas bagi kita, atau sebenarnya sudah jelas. Misal pula, ada seseorang yang melakukan perbuatan yang salah

Contohnya, orang yang minta didoakan oleh mayat orang shalih yang sudah dikubur. Itu kan tidak boleh. Sehingga tentang orang ini, kita tidak tahu apakah di dalam hati ia sebenarnya mengerti bahwa hal ini tidak boleh dilakukan ataukah, sebenarnya ia tidak tahu, tidak berilmu tentang hal itu, sehingga ia melakukannya, padahal itu syubhat baginya. Makanya, kita tidak boleh menghukumi PELAKU-nya sebagai kafir, namun ia telah melakukan perbuatan syirik. Sebab, kita tidak tahu bagaimana isi hati seseorang. 

Maka, menjaga diri dari syubhat adalah dengan dekatkan diri kepada Allah Subhana wa Ta'ala. Sebab, Allah tidak melihat pada fisik kita tapi pada hati kita, dan kebeningan hati bisa didapatkan dengan menghindari perkara yang syubhat.

Meninggalkan syubhat akan menjaga agama (hubungan dengan Allah) dan kehormatan kita (pandangan manusia). Perkara yang samar-samar ini memang akan kerap kita temui, sebab dunia memang tempatnya manusia diuji.

Ujian (fitnah) akan datang serupa helaian-helaian bambu yang menyusun sebuah tikar. Ia akan datang satu persatu, tidak sekaligus, sehingga Allah akan melihat bagaimana kita menyikapi dan menghadapi ujian tersebut. Ujian itu bisa datang dalam bentuk hal-hal yang baik (kenikmatan), maupun yang buruk (kesusahan). Maka saat kita tidak bisa lolos dari satu ujian itu, akan muncullan satu noda hitam di hati kita. Naudzubillah min dzalik.

Sebaliknya, orang yang bisa menghadapi ujian dengan benar, maka akan ada titik cahaya pada hatinya. Hati yang dipenuhi titik-titik hitam akan menjadi buram, gelap, dan tidak dapat terima kebenaran, salah satu sebabnya adalah seringnya ia terjatuh pada  perkara syubhat. Dan hati yang terjaga dari fitnah, akan bercahaya,tidak terpengaruh saat ujian yang lainnya datang. Hati yang terjaga ini, akan membuat anggota tubuh lainnya juga terjaga dan mudah lakukan kebaikan. Hati akan mendapatkan kekuatan dari membaca Al Qur'an, dzikrullah, shalawat, dan ketaatan lainnya kepada Allah.

Maka meninggalkan perkara syubhat sebenarnya adalah urusan kita kepada Allah, adakah kita telah jujur-hati dalam menghadapinya?

Alhamdulillah, demikian teman-teman, semoga kita semua bisa terhindar dari perkara syubhat dan terus berusaha menambah ilmu agama kita.

Semoga Allah mudahkan kita dalam berketaatan, dan mudahkan kita dalam hindarkan diri dari perkara yang haram pun yang syubhat.

Semoga Allah berikan keberkahan pada Ustadzah Dr. An Nuurah yang telah jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menyampaikan ilmunya.


Jazakumullahu khairan untuk yang sudah menyimak, mohon koreksinya pada kekhilafan yang ada. Semoga bermanfaat. (Ar/Ay)
Continue reading

thumb2

Penataran Seputar Ramadhan 1434 Hijriyah

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim




Wahai Kaum Muslimin, Hidupkan Ramadhanmu!
 Mau tahu bagaimana caranya?

Ikuti PENATARAN SEPUTAR RAMADHAN 1434 H.
Hari Sabtu - Ahad, 29 - 30 Juni 2013.
Pukul 08:00 - 17.00 WITA.
Di Masjid Kampus Universitas Hasanuddin.

Kontribusi Peserta :
Rp 40.000,- (Umum)
Rp 30.000,- (Mahasiswa/Pelajar)

 Presented By LIDMI, Ummat TV, Makkah AM.
Continue reading

thumb2

Manusia, Hidupmu untuk Apa?

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim

sebuah kisah bercerita dari langit
saat manusia di cipta
dan bertanyalah para malaikat
untuk apa, Ya Allah?

Awal mula manusia, nenek moyang kita diciptakan dari tanah. Benda yang letaknya di bawah, lebih sering diinjak-injak, dan terkadang tidak begitu diperhatikan keberadaannya. Dari sanalah manusia terus berkembang biak hingga menjadi berbagai suku dan bangsa yang tersebar di seluruh permukaan bumi Allah. Tiap anak manusia lahir tanpa membawa apapun, bahkan sehelai benang sekalipun. Dengan bermodalkan potensi yang dititipkan Allah, manusia hidup dari hari ke hari dan terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi sosok-sosoknya yang ‘lebih nyata’ saat ini. Dan manusia itu bukan siapa-siapa. Manusia itu adalah kita!

Dalam perjalanan kehidupan, seringkali kita terlampau sibuk dengan perputaran waktu dan segala aktivitas dunia yang menyita seluruh kehidupan kita. Ibadah kita lewati hanya sebagai ritual keseharian yang tak jauh dari upaya pengguguran kewajiban saja. Kita kadang tertipu dengan jasad yang nampak baik-baik saja dan seolah lupa bahwa ruhiyah kita juga butuh diberi waktu sejenak untuk dimanjakan.



Maka cobalah duduk barang sesaat saja. Nikmati keheningan yang membelai diri kita dengan lembutnya. Lalu tanyakanlah kepada diri ini; untuk apa sebenarnya hidup kita lalui? Apakah untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya? Atau untuk meraih prestasi dunia setinggi-tingginya? Ataukah agar mendapatkan jabatan yang paling nyaman kursinya? Lalu apakah hidup ini hanya akan terhenti di situ saja. Terhenti pada titik saat jantung kita berhenti berdegup. Saat paru-paru kita tak lagi dialiri udara. Atau saat aliran darah kita berhenti mengalir pada pembuluhnya? Apakah saat hidup kita berakhir maka segalanyapun akan berakhir secara paripurna?

Tentu sebagai seorang beriman yang mengimani hari akhir, kita pasti meyakini akan adanya kehidupan sesudah kematian; kehidupan akhirat yang tidak ada akhirnya! Dan segala yang telah kita perbuat di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya. Lalu dengan segala pengetahuan tentang itu, adakah kita rela hanya melewati hidup tanpa benar-benar tahu untuk apa sebenanya ia kita lalui?

Maka cobalah simak kembali perkataanNya yang telah abadi dalam kitab suci,
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” 
(Terjemahan QS. Adz-Dzariyat [51]:56)

Ya, untuk beribadah! Maka itulah kata kunci sesungguhnya untuk apa kita hidup di dunia. Untuk menjadikan setiap sendi kehidupan kita sebagai nilai ibadah yang merupakan tujuan penciptaan kita sejak semula!

Lalu lihatlah perangkat-perangkat yang telah Allah cipta untuk kita pada setiap centi dari tubuh kita. Semuanya adalah rangkaian penciptaan yang sangat sempurna yang menopang kehidupan kita untuk dapat berjalan di atas muka bumi ini tanpa kekurangan satu apapun.

Oksigen yang telah diberikanNya secara gratis, sinar matahari, dedaunan hijau yang mencipta udara sejuk, lautan yang membentang luas sejauh mata memandang, langit biru yang sesekali menurunkan berkah lewat bulir hujan, binatang yang hidup berdampingan dengan manusia, dan segala fasilitas lainnya yang tersedia secara gratis, yang dicipta Allah untuk makhluk bernama manusia!

Atas segala kenikmatan dan keberkahan tersebut, kadang lagi-lagi kita lupa menyiapkan waktu untuk memaknainya sejenak. Untuk mensyukurinya dalam setiap detik kehidupan kita. Kita malah terkadang hanya dapat menyemburkan keluhan atas sedikit saja uji dan coba yang dijadikan Allah sebagai parameter keimanan kita. Kita bahkan mengeluh saat telah nampak dengan nyata berbagai macam nikmat besar yang Allah berikan secara cuma-cuma

Pandanglah dirimu dengan tubuh yang sempurna, senyuman yang manis, mata yang berbinar, langkah yang mantap, dan dapatilah bahwa atas segala kenikmatan ini, kita tak akan pernah bisa berpaling!

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” 
(Terjemahan QS Ar Rahman [55]:16)


Continue reading

Followers

Subscribe via Email

Enter your email address:

Cara Kirim Tulisan

Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Yang tulisannya dimuat, Insya Allah akan mendapat imbalan. Tulisan yang masuk akan menjadi milik redaksi dan tidak dikembalikan. Jangan lupa sertakan biodata singkat di akhir tulisan. Berminat? Silakan kirimkan tulisan via email ke redaksialfirdaus@yahoo.com