INSPIRASIAndSEMANGAT MUSLIM MUDA

thumb2

Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Engkau Dustakan?

- - Majalah AlFirdaus


Kenikmatan adalah sebuah hal yang sangat sering menyapa kehidupan kita namun kadang kita lalai dalam menyadarinya. Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan dalam kehidupan kita, mulai dari nikmat yang ‘terdaftar’ dengan jelas pada anggota tubuh kita maupun nikmat yang kita rasakan dating dari orang lain. Belum lag nikmat keislaman dan nikmat keimanan yang kita rasakan hingga saat ini!
Tapi, mengapa kadang kita begitu sering lupa untuk mensyukuri nikmat tersebut? Mengapa dengan ujian secuil yang kita rasakan kita begitu mudahnya melupakan berjuta-juta nikmat yang telah Allah beri?
Simak juga kisah sejati yang semoga dapat kamu ambil hikmahnya dan direnungi dalam hati.
Kamu hobi berfacebook ria dan mejeng lewat situs itu? Jangan lupa tengok pula pembahasan tentang itu.
Tidak ketinggalan kabar dari Ikramsyi, rohis di SMF Yamasi
Serta berbagai macam artikel menarik lainnya yang semoga dapat menjadi inspirasi buat kamu agar menjadi lebih baik!
Hanya di Majalah AlFirdaus Volume 1 2010!
Continue reading

thumb2

Mengapa Kita Mengeluh?

- - Majalah AlFirdaus


oleh: Qanitah

Sadar atau tidak, diri kita terkadang begitu mudah mengeluhkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan rencana kita. Tatkala hujan datang misalnya, buru-buru lisan kita mengomel, “Duh…hujan, mana cucianku banyak lagi. Bisa-bisa nggak kering nanti.” Atau tatkala terik mentari begitu kuat menyengat, “Aduh…panasnya hari ini.” Ataukah mengeluh atas musibah yang kita alami, dan masih banyak keluhan kita yang lain.


Syukur nikmat…

Hidup penuh dengan tantangan. Namun kita tidak boleh lari tantangan tersebut karena tantangan itulah yang membuat kita tangguh. Menjalani hidup dengan setumpuk rencana dan harapan, jika tidak dilandasi dengan iman maka akan membuat manusia terbuai dengan dunia. Keinginan-keinginan yang terkadang tidak terealisasi dengan baik sesuai dengan rencana biasanya akan memunculkan sifat putus asa yang akhirnya akan berbuah keluh kesah dan menyalahkan keadaan.
Manusia memang suka berkeluh kesah. Tatkala hujan lebat turun, ia akan mengeluh becek, banjir dan lain sebagainya. Tatkala terik matahari menyengat maka ia pun mengeluh dengan kepanasan, kekeringan dan lain sebagainya. Jika rencananya gagal, ia akan buru-buru menyesal, berandai-andai, dan mengeluhkan apa yang terjadi pada dirinya hari itu. Seolah-olah tidak ada moment untuk tidak mengeluh. Memang bukan sesuatu yang mengherankan, dalam Al Qur’an digambarkan sebuah sifat manusia yang suka berkeluh kesah.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang sholat.”
(QS. Al-Ma’arij: 19-22)
Manusia terkadang memandang bahwa apa yang terjadi pada dirinya, yang tidak sesuai dengan keadaannya, akan menimbulkan sebuah masalah bagi dirinya. Ia pun merasa tidak siap dengan masalah itu. Sebuah kisah, ada seseorang yang sangat menyesal melanjutkan pendidikannya di suatu sekolah. Tiap hari ia mengeluh dan berkata, “Seandainya dulu, aku tidak menuruti perintah orang tuaku untuk melanjutkan pendidikan disini, maka aku tidak akan seperti ini dan dalam kondisi begini.” Tapi ternyata, berjalan beberapa bulan di sekolah itu, ia pun akhirnya sadar. Di tempat ia sekarang melanjutkan pendidikan, ia bertemu dengan teman-teman muslimah yang masya allah punya ghirah untuk belajar ilmu syar’i. Ia pun sering diajak oleh teman-temannya, mulai membaca buku, diskusi-diskusi hingga ikut kajian. Dan alhamdulillah, ia pun ikut dan akhirnya memperoleh hidayah dan sekarang sudah rutin ikut kajian, bahkan terlibat dalam dunia dakwah. Ia akhirnya mereview kisah-kisahnya masa lalu. Jikalau saja ia tak melanjutkan pendidikan disekolah tersebut, boleh jadi ia belum mendapatkan hidayah, karena yang pertama kali memperkenalkan ilmu syar’i, kajian, dsb adalah teman-teman muslimahnya di sekolah tersebut.

Mengapa kita mengeluh?

Keluhan biasanya muncul karena adanya ketidaksesuaian antara harapan dan cita-cita dengan realitas yang ada. Tingginya angan-angan yang tidak disertai dengan tawakkal kepada Allah, menyebabkan hati merasa bahwa segalanya harus terjadi sesuai dengan keinginannya. Padahal segala sesuatu itu akan terjadi sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah melalui qadha’ dan qadar-Nya. Sebagaimana firman Allah,
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam Lauh Mahfudz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid: 22)
Ketetapan Allah merupakan sesuatu yang harus diyakini kebenarannya, yakni kita menyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan ketentuan Allah, dan segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan, seizin dan ketentuan Allah.
Ketetapan Allah bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, karena ketetapan tersebut sudah merupakan bagian dari rencana Allah yang Maha Sempurna. Allah adalah Dzat yang menciptakan manusia, bumi dan seluruh alam semesta tanpa terkecuali. Allah-lah yang lebih tahu dan lebih mengenal seluruh makhluk-Nya karena Dialah yang menciptakan kita. Ibarat handphone, tentu yang lebih tahu seluk beluk handphone tesebut adalah sang pembuat handphone, bukan handphone itu sendiri atau orang lain, Karena yang merakit dan mendesain handphone tersebut adalah sang pembuat handphone sehingga dialah yang lebih tahu mengenai handphone tersebut. Begitu pun antara manusia dan Allah, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya sehingga Dia tahu kelebihan, kelemahan, kebutuhan dan segalanya yang berkaitan dengan manusia.
Lagipula segala ketetapan Allah yang Dia ciptakan, misalnya sebuah musibah tidak dibebankan kepada manusia jika ia tak sanggup untuk memikulnya. Segala apa yang kita alami adalah karena memang kita sanggup untuk melaluinya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)
Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa,
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar: 49)
Segala sesuatu ketetapan Allah merupakan suatu yang baik, hanya saja terkadang kita tidak tahu dan menganggap bahwa semua yang kita alami yang berupa ujian tersebut merupakan mara bahaya bagi kita. Padahal Allah tidak menentukan sebuah qadha’ bagi hamba kecuali qadha’ itu baik baginya. Sebagai makhluk Allah kita tentu saja tidak bisa menjangkau dan mengetahui rencana Allah. Ilmu Allah begitu luas dan sangat sedikit yang diketahui oleh manusia.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah: 216)
Sebuah pertanyaan pernah dilontarkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Apakah maksiat itu baik bagi seorang hamba?” Dia menjawab: “Ya! Namun dengan syarat dia harus menyesali, bertaubat, beristighfar, dan merasa sangat bersalah.” Maksiat yang membuahkan taubat yang sebenar-benarnya taubat. Taubat yang membuat kita tak ingin bermaksiat lagi. Taubat yang menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya, selalu bersemangat melakukan amal shalih tanpa lelah, berpaling dari maksiat sekuat mungkin, serta mengubur kenangan manis masa lalu yang tenyata berkubangan dosa.

Makna Ujian

Boleh jadi apa yang kita alami, berupa kekurangan, kegagalan adalah merupakan ujian dari Allah, sebagaimana firman Allah
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)
Allah ingin menguji sejauhmana kesabaran kita, dan ujian juga merupakan ladang pahala ketika kita melaluinya dengan sabar. Ujian juga merupakan suatu pembeda antara orang mukmin dan munafik. Mengapa?? Karena ujian itu sulit, dan karena kesulitannya tidak semua orang bisa lolos. Kalau ujian tidak sulit, atau bahkan sangat mudah, maka semua orang akan lolos.
“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al Ankabut: 1-3)
Ujian bukanlah sesuatu yang mustahil, sebab kalau mustahil dilakukan, maka keduanya akan gagal, baik orang mukmin maupun orang munafik. Ujian Allah kepada hamba-Nya tidak sedikit jumlahnya. Allah akan terus menguji makhluk-Nya hingga titik terlemah dari dirinya.
Sesungguhnya segala kekhawatiran dan ketakutan yang berujung pada munculnya berbagai keluhan-keluhan adalah bukti masih rendahnya tingkat keyakinan dan keimanan kita kepada Allah, keyakinan kita akan qadha’ dan qadar Allah dan masih rendahnya rasa tawakkal kita kepada Allah. Rendahnya keyakinan kita akan kemahasempurnaan rencana Allah berbuntut ketakutan akan apa yang terjadi dan yang akan terjadi pada diri kita.
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 2-3)
Semoga kita termasuk hamba yang selalu tawakkal akan segala ketetapan Allah. Semoga ujia yang kita alami menjadi ladang pahala bagi kita, dengan melaluinya dengan penuh kesabaran. Hakikat sabar adalah pada benturan pertama. Semoga Allah menganugrahkan kita hati yang selalu ghirah memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.

Gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDyGZKADlZo4rCqU7NJiIH9KbfVUItAgyfhPX7vab2I0Snkf5-Iv0ZpXFoIfh-XKR3vRvIIuYcUYTPapvlX5r3oqG2X8OM4hQS4tW6V1ssRKgSBpx92WmJhGoH-9VVclHoC3ftYx2VfsJO/s320/syukur1.jpg
Continue reading

thumb2

Bersyukurlah karena Allah Mencipta Sang Surya!

- - Majalah AlFirdaus


Pagi hari. Matahari mulai menyapa dengan sinarnya yang hangat. Orang-orang keluar dari rumahnya untuk menjalankan aktifitas masing-masing. Tidak banyak yang peduli dengan keberadaan si benda langit yang setia itu. Siangnya, matahari bersinar terik. Sinarnya yang menyengat siang itu, membuat beberapa orang nampak menyeka keringat. Tak jarang keluhan dari bibirnya terucap karena rasa tidak nyaman akibat suasana gerah yang tercipta. Menjelang petang, sedikit demi sedikit semburat jingga terlukis di langit. Matahari akan segera berpamitan. Kini, tinggal setengah lingkaran, bertanda matahari akan segera terbenam. Begitulah roda perputaran matahari, setiap harinya.

Ya, keberadaan matahari sebagai ciptaan Allah, kadang hanya kita anggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, asal shohib AF tau aja, ada begitu banyak hal yang sebenarnya dapat menjadi bahan renungan kita atas keberadaan si Raja Siang ini !
Matahari adalah bintang terdekat dengan bumi dengan suhu permukaan enam ribu derajat celcius, hmm..., kebayang gak panasnya ? Tapi, jangan kaget dulu ! Sebab semakin kita menilik ke bagian inti bola raksasa ini, suhunya dapat mencapai hingga 15 juta derajat celcius loh! Energi yang dihasilkan, kemudian terbawa kepermukaan matahari sebagai panas dan sinar. Keduanya, amat penting bagi kehidupan dunia. Sinar dan panas itu terah dirancang dengan kepekaan yang menakjubkan bagi kehidupan kita !


Panas yang dihasilkan matahari berguna untuk memanaskan permukaan bumi. Sinarnya, terjaga kehangatannya dengan suhu dalam kisaran dimana makhluk hidup dapat bertahan. Sedangkan sebagai energi, sinar ini berguna sebagai penggerak dalam proses fotosintesis. Terutama, waktu tumbuhan membuat makanannya. Nah, kamu mungkin sudah pernah mempelajari proses ini di pelajaran sekolah kamu, khan? Tapi, jangan cuma hapal teorinya yah, tapi renungi pula betapa dalam proses tersebut tentunya tidak terlepas dari kekuasaan Allah Azza Wa Jalla, pencipta alam semesta !

Fotosintesis, Luar Biasa !
Fotosintesis terjadi dengan adanya kloroplas yag bekerja layaknya laboratorium kimia degan reaksi yang rumit di tiap detiknya. Satu-satunya pembuatan zat makanan di dunia adalah proses kimiawi yang dilakukan oleh tumbuhan ini. Semua makhluk hidup secara tidak langsung memperolehnya lewat jalur rantai makanan yang ada. Hewan pemakan tumbuhan mengambil energi ini, saat melahap rumput, daun dan sebagainya. Selanjutnya, hewan karnivora juga memperoleh energi dari sumber yang sama, ketika melahap hewan pemakan tumbuhan tadi. Begitu pula dengan manusia, waktu menyantap sayur dan daging, maka tanpa sadar, sebenarnya setiap santapan kita, ada energi dari matahari !

Belum cukup dengan energi, hasil penting fotosintesis lainnya adalah oksigen. Manusia dan hewan mengambil sedikit demi sedikit persediaan oksigen dari atmosfer dan tumbuhan. Selanjutnya, menggantinya lewat fotosintesis. Tentu saja, terdapat keseimbangan menakjubkan dalam hal ini. Tumbuhan menyediakan glukosa dan oksigen, kita menggunakannya dalam sel-sel kita. Karbondioksida yang kita lepaskan, digunakan kembali oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Daur selaras ini terjadi terus menerus, hanya dapat terjadi berkat bantuan sinar matahari !

Sinar matahari dirancang khusus untuk kehidupan di bumi. Pengaturan ini juga berlaku dalam proses fotosintesis yang hanya dapat berlangsung dengan sinar matahari, bukan sinar yang lain. Astronom asal Amerika menulis, “Klorofil adalah molekul yang melakukan fotosintesis diawali dengan penyerapan sinar matahari oleh molekul klorofil. Namun, agar ini terjadi, sinar itu haruslah berwarna sesuai. Sinar yang salah warna tidak akan bisa. Perumpamaannya seperti seperangkat televisi. Agar ia bisa menerima siaran tertentu, pesawat harus disetel ke saluran itu, jika disetel ke tempat yang lain, siaran tidak dapat diterima. Ini sama dengan fotosintesis, matahari diumpamakan berperan sebagai pemancar dan molekul klorofil sebagai pesawat televisi. Jika molekul dan matahari tidak saling disetel dalam hal warna, fotosintesis tidak akan terjadi. Ternyata, warna matahari sungguh sangat tepat untuk fotosintesis.” (George Greenstein, The Symbiotic Universe, William Morrow, New York, 1988, h.96)

Kesimpulannya, bahwa terdapat kecocokan yang sangat pas antara sinar matahari dengan klorofil yang ada pada daun. Kecocokan ini tentunya gak mungkin dong tanpa kesengajaan! Tapi, ada yang mengaturnya, yakni; pencipta matahari, tumbuh-tumbuhan, bumi, langit, dan semua di antara keduanya, adalah satu Dzat yang sama : Allah Subhanah Wata’ala !

Perjuangan Si Sinar
Sinar matahari harus melintasi rintangan besar sebelum mencapai bumi kita. Yup, rintangan itu adalah atmosfer! Tapi, sinar matahari adalah satu-satunya radiasi yang dapat dibiarkan lewat oleh atmosfer. Dalam waktu bersamaan, lapisan ini juga menahan sinar-sinar lain yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Matahari hanya mencurahkan satu banding sepuluh pangkat dua puluh lima dari radiasinya, dan itulah yang diloloskan oleh atmsosfer. Tentunya rancangan dan rencana di tiap rincian alam semesta ini telah diciptakan Allah dengan keselarasan yang amat istimewa bagi segenap makhlukNya.

Stt..., ternyata kesimpulan yang dituntun oleh ilmu pengetahuan ini sesungguhnya telah diajarkan oleh Allah lewat al Qur’an sejak 14 abad lampau. Jika ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa sinar matahari disiapkan untuk kita dan untuk melayani kita, maka coba simak firman Allah dalam surah Ar Rahman [55] ayat 5 berikut :
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”
Tengok pula apa yang terdapat dalam bagian Al Qur’an lainnya :
“Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dari hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malan dan siang. Dan Dia telah berikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya.Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS Ibrahim [14] : 34)

Subhanallah! Maka patutlah terucap syukur saat matahari menyinari bumi, karena Allah telah menciptanya, teruntuk kita semua !(AR)

gambar: http://i287.photobucket.com/albums/ll123/sailorette857/sunshine.jpg


Continue reading

Followers

Subscribe via Email

Enter your email address:

Cara Kirim Tulisan

Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Yang tulisannya dimuat, Insya Allah akan mendapat imbalan. Tulisan yang masuk akan menjadi milik redaksi dan tidak dikembalikan. Jangan lupa sertakan biodata singkat di akhir tulisan. Berminat? Silakan kirimkan tulisan via email ke redaksialfirdaus@yahoo.com