INSPIRASIAndSEMANGAT MUSLIM MUDA

thumb2

Ketika Lelah Berkebaikan

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaaahirrahmaanirrahiim

“Apakah kamu masih pernah mengingatnya?”, tanya seorang kawan saat kami sedang dalam perjalanan ke rumah masing-masing. Dia bertanya tentang seorang saudari kami yang beberapa tempo lalu, sebelum Ramadhan datang, telah menyelesaikan skenario hidupnya di dunia. Kawan saya itu mengaku, bahwa seringkali ia tiba-tiba mengingat beberapa kenangan dengan saudari kami yang sudah meninggal itu. 

Saat ditanya seperti itu, saya mengangguk. Ya, saya pun kadang mengingat beliau. Saya mengingat bacaan Qur’annya yang indah, juga tutur katanya yang sejuk. Namun, ada satu memori yang kadang melintas di benak saya tentangnya, sebuah nasihat yang ia kirimkan lewat pesan singkat. 

“Saat kita telah lelah melakukan kebaikan, lalu tiba-tiba memiliki keinginan untuk kembali pada keburukan, maka ingatlah bahwa bisa saja saat itu adalah saat Allah mengakhiri hidup kita. Maka, inginkah kita memiliki akhir yang buruk?”

Nasihat singkat yang selalu terlintas di benak saya, ketika rasa lelah itu datang. 

Mungkin, memang telah tiba masa dimana berpegang teguh pada kebenaran terasa bagaikan menggenggam bara api. Rasanya, ingin segera cepat-cepat melepaskannya, karena ketidaknyamanan, bakan keperihan yang kita rasakan. Hari-hari dihiasi dengan berbagai macam berita yang bercampur aduk antara yang haq dan yang bathil. Tanpa kemampuan untuk memilah keduanya, sangat mungkin kita terjatuh pada keburukan, dan sangat berpeluang kita merasa lelah dalam berkebaikan.

Terkadang, kesalahan-kesalahan kecil kita carikan pembenaran. Dosa-dosa yang terlihat sepele kita anggap remeh. Ia bagaikan lalat yang nangkring di hidung dan bisa segera kita halau agar terbang dari sana. Dosa bukan lagi kita lihat serupa gunung yang bisa menimpa kita kapan saja. Padahal tanpa kita sadari, dosa-dosa yang kita remehkan itu, bisa saja menjelma menjadi dosa yang besar.  




Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qasidin (Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk), memaparkan bahwa ada beberapa hal yang dapat menyebabkan dosa kecil menjadi besar, diantaranya:

Pertama, menganggap remeh perbuatan buruk. Menganggap remeh sebuah dosa, akan membuat seseorang tidak merasa perlu untuk menghindarinya. Padahal, selagi seorang hamba menganggapnya kecil dan remeh, maka sebenarnya dosa itu akan menjadi besar di sisi Allah. Bilal bin Sa’d Rahimahullah berkata, “Janganlah kalian melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah keagungan yang kalian durhakai”.

Kedua, merasa senang melakukannya, bahkan membanggakannya. Ridha terhadap kesalahan diri, bahkan membanggakannya, karena menganggapnya hanya kesalahan kecil (bahkan menganggapnya bukan kesalahan), adalah diantara penyebab dosa kecil setara dengan dosa besar.

Ketiga, meremehkan kasih sayang Allah. Seseorang yang terus meremehkan dosa kecil berarti ia tidak sadar bahwa sikapnya itu dapat mendatangkan kemurkaan dari Allah. 

Keempat, menceritakan dosanya pada orang lain. Tidak sadarkah kita bahwa menceritakan kesalahan kita pada orang lain, bisa saja menjadi inspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama? Atau mungkin pula menjadi pembenaran baginya untuk turut melakukan hal yang serupa. Naudzubillah, jangan sampai hal itu menjadi dosa jariyah bagi kita! 

Terlebih lagi, jika penyebab kelima pun turut di dalamnya, yaitu sebab yang melakukannya adalah seorang ulama yang menjadi panutan. Maka, orang-orang akan mudah untuk menjadikan kesalahannya itu sebagai alasan untuk memudah-mudahkan melakukan dosa. 

Sebab seharusnya, seorang ulama memiliki dua tugas, yaitu: 
1. Meninggalkan dosa, 
2. Menyembunyikan dosa itu jika ia melakukannya, agar tidak ada orang yang mengikutinya.

Maka, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang menganggap kecil perbuatan dosa. Jangan sampai kita adalah diantara manusia yang lelah berbuat baik, lalu kemudian memilih untuk berpaling pada keburukan. Sebab, mari bersama-sama kita menjadikan kematian sebagai sebaik-baik nasihat. Jangan sampai, hidup kita menjadi buruk pada akhirnya. 

Tetaplah setia pada jalan kebenaran, sesulit apapun ia ditempuh. Sesunyi apapun keadaannya. Dan seasing apapun kondisi kita saat menyusurinya. Sekelam apapun masa lalu kita, tetaplah ingat bahwa kebaikan akan menghapuskan keburukan sebagaimana Allah telah berfirman,

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud:114)

Wallahu a’lam bishawab. (AR)

Continue reading

thumb2

Wahai Orang yang Terhadang Badai!

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Wahai manusia… di dalam kehidupan pasti ada kekeruhan, pasti ada kesusahan-kesusahan dan pasti ada ujian. Perkara-perkara ini adalah bagian dari hukum Allah Azza wa Jalla terhadap makhlukNya untuk melihat siapakah di antara kita yang paling baik amalannya.
Jadi tidak diragukan lagi bahwa seorang manusia akan menghadapi berbagai bencana dan musibah. Namun tiada yang menimpa diri seorang hamba kecuali yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. 
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang tertuang dalam QS. At Taubah ayat 51 yang artinya, “Katakanlah, ‘sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami’.”
Sesungguhnya jiwa manusia hanya dapat menjadi bersih nan suci, apabila telah ditempa dengan sangat baik. Ujian dan cobaan akan memperlihatkan kesejatian seseorang. 
Ibnul Jauzi mengungkapkan, “orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan abadi tanpa ujian dan cobaan, berarti ia belum mengenal ajaran Islam dan tidak mengenal arti pasrah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Allah Ta’ala tidak pernah menahan sesuatu untukmu, wahai orang yang terhadang badai, tetapi karena Allah Ta’ala akan memberikan sesuatu yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji untuk memberikan keselamatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi cobaan untuk membersihkan diri kita. Selama masih ada umur, rezeki pasti akan datang Insyaa ALLAH.


Seorang ulama mengungkapkan, “orang yang diciptakan untuk masuk syurga, pasti akan merasakan banyak kesulitan. Musibah yang sesungguhnya adalah yang menimpa agama seseorang. Sementara musibah-musibah selain itu merupakan jalan keselamatan baginya. Ada yang berfungsi meningkatkan pahala, ada yang menjadi pengampun dosa. Orang yang benar-benar tertimpa merana adalah mereka yang terhalang dari mendapatkan pahala.”
Jadi yakinlah bahwa pengaturan Allah Ta’ala lebih baik dari pengaturan kita sendiri dan rahmatNya lebih besar dari kasih sayang seorang ibu terhadap buah hatinya. Tak ada satu alasan pun bagi seorang yang bertakwa untuk tidak memberikan keridhaan yang seutuhnya terhadap apa-apa yang dibagikan Allah Azza wa Jalla untuk diri kita sendiri sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberikan keberkahan dan kelapangan. 
Sebaliknya, barang siapa tidak ridha, Allah Azza wa Jalla pun tidak akan memberinya kelapangan dan keberkahan. Sehingga dapat dikatakan orang yang ridha adalah orang yang menganggap nikmat-nikmat Allah, yaitu berupa sesuatu yang dibencinya lebih banyak dan lebih besar daripada sesuatu yang dicintainya.

Aku berbaik sangka dengan kebaikan ampunan-Mu
Yaa Rabb yang Maha Indah
Engkau adalah penguasa urusanku
Aku menjaga rahasiaku dari seluruh kerabat dan keluarga
Engkau adalah gudang rahasiaku
Yakin dengan rahasia yang berada di sisi-Mu
Jangan Engkau tidak menyia-nyiakanku ketika hari pengumpulanku
Hari ketika diangkatnya penutup-penutup dari hijab-hijab ghaib
Janganlah Engkau bukakan penutupku kepada manusia
Ajarkanlah hujjahku kepada diriku
Jikalau Aku—yaa Rabb—tidak memiliki hujjah dan udzur

Maraji : - La Tahzan for Trouble Solutions (Mahmud Al Mishri)
              - “ila ahlil masa’ib wal ahzan”, khutbah Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim
Continue reading

thumb2

Mentimun: Dulu dan Kini!

- - Majalah AlFirdaus

Bismillaahirrahmaanirrahiim 

            Wajah adalah salah satu bagian terpenting bagi seorang wanita. Apatah lagi bagi seorang muslimah, sudah seharusnyalah mereka merawat sesuatu yang telah diamanahkan Allah subhanahu wa Ta’ala padanya. Yaa dalam hal ini termaksud dalam merawat kulit wajahnya.
            Sebagian besar kaum hawa, wanita, perempuan, cewek, akhwat muslimah atau apapun namanya masih biasa menggunakan masker wajah, dan tidak sedikit dari kalangan kita karena ingin penampilannya lebih menarik terkadang mengorek nilai rupiah yang tidak sedikit dari dompetnya, dan sudah jadi rahasia umum juga bagi kalangan perempuan, bisa menjadi masalah besar buatnya kalau sudah berbicara tentang kulit wajah. Berikut AF akan menyajikan bagaimana caranya membuat masker alami, tanpa biaya mahal ^^

Mentimun Sebagai Masker Alami
Yuup, mentimun siapa sih yang tidak kenal dengan sayuran yang satu ini? Atau mungkin kalau masyarakat Makassar lebih dikenal dengan bontek. Selain mudah didapatkan, harganya pun cukup terjangkau. Kalau dulu di jaman nenek moyang kita, mentimun hanya dikenal sebagai sayuran, yaa walaupun hingga kini juga masih sering digunakan sebagai sayuran, sebagai pelengkap makanan seperti pecel mungkin ataupun sebagai hiasan nasi goreng, tapi sekarang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, mentimun tidak hanya digunakan sebagai pelengkap pencernaan kita, kini mentimun juga sudah bisa digunakan untuk menghilangkan noda membandel di wajah alias jerawat. Nagh loh, bagaimana caranya?

Seperti yang dikutip dari vemale.com, kita dapat menghilangkan jerawat menggunakan buah mentimun. Ada beberapa cara yang bisa Anda gunakan, di antaranya:
  • Masker Mentimun. Caranya haluskan mentimun dengan blender kemudian oleskan pada permukaan wajah. Diamkan kurang lebih selama 30 menit, kemudian bersihkan dengan handuk yang sudah dicelupkan dengan air hangat. Bersihkan sisa masker yang masih menempel dengan air hangat. Untuk hasil yang lebih maksimal, Anda dapat menambahkan bahan lain seperti secangkir havermut dan yogurt.
  • Jus Mentimun. Anda dapat menggunakan jus ketimun sebagai zat alami untuk menghilangkan minyak. Oleh karena itu mentimun dapat menjadi solusi jika Anda memiliki jerawat ataupun bintik merah akibat peradangan.

Nagh itulah tips cara menghilangkan,  memperhalus kulit tanpa harus ke salon, tidak ribet, dan bisa kita sendiri yang kerjakan, tanpa membuang-buang waktu pula.
Tapi ingalah bahwa agama kita, tidak menentukan konsep yang pasti mengenai kriteria “Wanita Cantik” dan juga tidak ada standar yang pasti bagaimana penampilan cantik itu. Memang penting bagi seorang muslimah berpenampilan cantik di luar, tapi yang paling penting lagi adalah penampilan cantik di dalamnya, karena semua itu akan terpancar insyaa allah. Dan ingat jangan sampai tips penampilan cantik ini dijadikan ajang tabarruj yaa ^^ (UK)

 
Continue reading

Followers

Subscribe via Email

Enter your email address:

Cara Kirim Tulisan

Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Yang tulisannya dimuat, Insya Allah akan mendapat imbalan. Tulisan yang masuk akan menjadi milik redaksi dan tidak dikembalikan. Jangan lupa sertakan biodata singkat di akhir tulisan. Berminat? Silakan kirimkan tulisan via email ke redaksialfirdaus@yahoo.com