INSPIRASIAndSEMANGAT MUSLIM MUDA


oleh: Qanitah

Sadar atau tidak, diri kita terkadang begitu mudah mengeluhkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan rencana kita. Tatkala hujan datang misalnya, buru-buru lisan kita mengomel, “Duh…hujan, mana cucianku banyak lagi. Bisa-bisa nggak kering nanti.” Atau tatkala terik mentari begitu kuat menyengat, “Aduh…panasnya hari ini.” Ataukah mengeluh atas musibah yang kita alami, dan masih banyak keluhan kita yang lain.


Syukur nikmat…

Hidup penuh dengan tantangan. Namun kita tidak boleh lari tantangan tersebut karena tantangan itulah yang membuat kita tangguh. Menjalani hidup dengan setumpuk rencana dan harapan, jika tidak dilandasi dengan iman maka akan membuat manusia terbuai dengan dunia. Keinginan-keinginan yang terkadang tidak terealisasi dengan baik sesuai dengan rencana biasanya akan memunculkan sifat putus asa yang akhirnya akan berbuah keluh kesah dan menyalahkan keadaan.
Manusia memang suka berkeluh kesah. Tatkala hujan lebat turun, ia akan mengeluh becek, banjir dan lain sebagainya. Tatkala terik matahari menyengat maka ia pun mengeluh dengan kepanasan, kekeringan dan lain sebagainya. Jika rencananya gagal, ia akan buru-buru menyesal, berandai-andai, dan mengeluhkan apa yang terjadi pada dirinya hari itu. Seolah-olah tidak ada moment untuk tidak mengeluh. Memang bukan sesuatu yang mengherankan, dalam Al Qur’an digambarkan sebuah sifat manusia yang suka berkeluh kesah.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang sholat.”
(QS. Al-Ma’arij: 19-22)
Manusia terkadang memandang bahwa apa yang terjadi pada dirinya, yang tidak sesuai dengan keadaannya, akan menimbulkan sebuah masalah bagi dirinya. Ia pun merasa tidak siap dengan masalah itu. Sebuah kisah, ada seseorang yang sangat menyesal melanjutkan pendidikannya di suatu sekolah. Tiap hari ia mengeluh dan berkata, “Seandainya dulu, aku tidak menuruti perintah orang tuaku untuk melanjutkan pendidikan disini, maka aku tidak akan seperti ini dan dalam kondisi begini.” Tapi ternyata, berjalan beberapa bulan di sekolah itu, ia pun akhirnya sadar. Di tempat ia sekarang melanjutkan pendidikan, ia bertemu dengan teman-teman muslimah yang masya allah punya ghirah untuk belajar ilmu syar’i. Ia pun sering diajak oleh teman-temannya, mulai membaca buku, diskusi-diskusi hingga ikut kajian. Dan alhamdulillah, ia pun ikut dan akhirnya memperoleh hidayah dan sekarang sudah rutin ikut kajian, bahkan terlibat dalam dunia dakwah. Ia akhirnya mereview kisah-kisahnya masa lalu. Jikalau saja ia tak melanjutkan pendidikan disekolah tersebut, boleh jadi ia belum mendapatkan hidayah, karena yang pertama kali memperkenalkan ilmu syar’i, kajian, dsb adalah teman-teman muslimahnya di sekolah tersebut.

Mengapa kita mengeluh?

Keluhan biasanya muncul karena adanya ketidaksesuaian antara harapan dan cita-cita dengan realitas yang ada. Tingginya angan-angan yang tidak disertai dengan tawakkal kepada Allah, menyebabkan hati merasa bahwa segalanya harus terjadi sesuai dengan keinginannya. Padahal segala sesuatu itu akan terjadi sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah melalui qadha’ dan qadar-Nya. Sebagaimana firman Allah,
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam Lauh Mahfudz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid: 22)
Ketetapan Allah merupakan sesuatu yang harus diyakini kebenarannya, yakni kita menyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan ketentuan Allah, dan segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan, seizin dan ketentuan Allah.
Ketetapan Allah bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, karena ketetapan tersebut sudah merupakan bagian dari rencana Allah yang Maha Sempurna. Allah adalah Dzat yang menciptakan manusia, bumi dan seluruh alam semesta tanpa terkecuali. Allah-lah yang lebih tahu dan lebih mengenal seluruh makhluk-Nya karena Dialah yang menciptakan kita. Ibarat handphone, tentu yang lebih tahu seluk beluk handphone tesebut adalah sang pembuat handphone, bukan handphone itu sendiri atau orang lain, Karena yang merakit dan mendesain handphone tersebut adalah sang pembuat handphone sehingga dialah yang lebih tahu mengenai handphone tersebut. Begitu pun antara manusia dan Allah, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya sehingga Dia tahu kelebihan, kelemahan, kebutuhan dan segalanya yang berkaitan dengan manusia.
Lagipula segala ketetapan Allah yang Dia ciptakan, misalnya sebuah musibah tidak dibebankan kepada manusia jika ia tak sanggup untuk memikulnya. Segala apa yang kita alami adalah karena memang kita sanggup untuk melaluinya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)
Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa,
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar: 49)
Segala sesuatu ketetapan Allah merupakan suatu yang baik, hanya saja terkadang kita tidak tahu dan menganggap bahwa semua yang kita alami yang berupa ujian tersebut merupakan mara bahaya bagi kita. Padahal Allah tidak menentukan sebuah qadha’ bagi hamba kecuali qadha’ itu baik baginya. Sebagai makhluk Allah kita tentu saja tidak bisa menjangkau dan mengetahui rencana Allah. Ilmu Allah begitu luas dan sangat sedikit yang diketahui oleh manusia.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah: 216)
Sebuah pertanyaan pernah dilontarkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Apakah maksiat itu baik bagi seorang hamba?” Dia menjawab: “Ya! Namun dengan syarat dia harus menyesali, bertaubat, beristighfar, dan merasa sangat bersalah.” Maksiat yang membuahkan taubat yang sebenar-benarnya taubat. Taubat yang membuat kita tak ingin bermaksiat lagi. Taubat yang menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya, selalu bersemangat melakukan amal shalih tanpa lelah, berpaling dari maksiat sekuat mungkin, serta mengubur kenangan manis masa lalu yang tenyata berkubangan dosa.

Makna Ujian

Boleh jadi apa yang kita alami, berupa kekurangan, kegagalan adalah merupakan ujian dari Allah, sebagaimana firman Allah
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)
Allah ingin menguji sejauhmana kesabaran kita, dan ujian juga merupakan ladang pahala ketika kita melaluinya dengan sabar. Ujian juga merupakan suatu pembeda antara orang mukmin dan munafik. Mengapa?? Karena ujian itu sulit, dan karena kesulitannya tidak semua orang bisa lolos. Kalau ujian tidak sulit, atau bahkan sangat mudah, maka semua orang akan lolos.
“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al Ankabut: 1-3)
Ujian bukanlah sesuatu yang mustahil, sebab kalau mustahil dilakukan, maka keduanya akan gagal, baik orang mukmin maupun orang munafik. Ujian Allah kepada hamba-Nya tidak sedikit jumlahnya. Allah akan terus menguji makhluk-Nya hingga titik terlemah dari dirinya.
Sesungguhnya segala kekhawatiran dan ketakutan yang berujung pada munculnya berbagai keluhan-keluhan adalah bukti masih rendahnya tingkat keyakinan dan keimanan kita kepada Allah, keyakinan kita akan qadha’ dan qadar Allah dan masih rendahnya rasa tawakkal kita kepada Allah. Rendahnya keyakinan kita akan kemahasempurnaan rencana Allah berbuntut ketakutan akan apa yang terjadi dan yang akan terjadi pada diri kita.
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 2-3)
Semoga kita termasuk hamba yang selalu tawakkal akan segala ketetapan Allah. Semoga ujia yang kita alami menjadi ladang pahala bagi kita, dengan melaluinya dengan penuh kesabaran. Hakikat sabar adalah pada benturan pertama. Semoga Allah menganugrahkan kita hati yang selalu ghirah memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.

Gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDyGZKADlZo4rCqU7NJiIH9KbfVUItAgyfhPX7vab2I0Snkf5-Iv0ZpXFoIfh-XKR3vRvIIuYcUYTPapvlX5r3oqG2X8OM4hQS4tW6V1ssRKgSBpx92WmJhGoH-9VVclHoC3ftYx2VfsJO/s320/syukur1.jpg

This entry was posted in Thank you for reading !! Barakallahu fiik .

1 comments:

nafiudin said...

Subhanalloh, walaupun saya belum sempat baca literaturnya tapi saya sudah terpikat dengan tampilannya. jamiilun / jamiilah

Post a Comment

Silakan berkomentar!

Followers

Subscribe via Email

Enter your email address:

Cara Kirim Tulisan

Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Yang tulisannya dimuat, Insya Allah akan mendapat imbalan. Tulisan yang masuk akan menjadi milik redaksi dan tidak dikembalikan. Jangan lupa sertakan biodata singkat di akhir tulisan. Berminat? Silakan kirimkan tulisan via email ke redaksialfirdaus@yahoo.com