INSPIRASI
SEMANGAT MUSLIM MUDA
Raihlah Pahala di Hari Kurban
- - Majalah AlFirdaus
Raihlah Pahala Di Hari Kurban
Oleh: Muh. Irfan Zain, Lc
Usia yang terbatas dan kesalahan yang bertumpuk dan semakin banyak, seakan membuat kita pesimis. Bagaimana harus menebus dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Tetapi keluasan rahmatNya ternyata melingkupi segala sesuatu. Berbagai peluang untuk meraih dan mendulang pahala, Ia bentangkan setiap masa. Namun adakah yang mau menjemputnya?
Di antara peluang itu adalah syariat kurban. Kurban yang dilaksanakan dengan ikhlas merupakan simbol ketakwaan seorang hamba dan kecintaannya kepada Allah.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(Al-hajj; 37).
Mengingat hal tersebut, maka Allah sangat mencintai ibadah itu, bahkan lebih dari kecintaanNya kepada ibadah lain yang dilakukan pada hari ke-10 di bulan Dzulhijjah tersebut. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam katakan bahwa sekecil apapun amal sholeh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah, maka tidak akan ada satupun amalan yang dapat menyamai nilainya di sisi Allah kecuali seseorang yang berjihad dan meninggal dalam medan jihad itu. Maka bila demikian, keutamaan beramal pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lantas bagaimanakah pahala yang Allah Subhanahu wa ta'ala siapkan bagi orang-orang yang berkurban pada hari ke-10 di bulan tersebut ? Disebutkan dalam sebuah riwayat,
ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا هو أعظم عند الله -أو أحب إلى الله- من إراقة الدم.
“Tiada satupun amalan seorang manusia yang lebih mulia atau lebih dicintai oleh Allah –dihari ke-10 Dzulhijjah- daripada mengalirkan darah kurban.” (HR. Tirmidzi, didh'ifkan oleh syaikh al Baani dan dihasankan oleh syaikh Mubarakfuuri).
Hukum Pelaksanaan Ibadah Kurban.
Kebanyakan ulama menilai bahwa hukum melakukan ibadah kurban adalah sunnah mu'akkadah. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;
من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح فلا يحضر مصلانا
“Barangsiapa memiliki kesanggupan lantas ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghadiri lapangan tempat shalat kami ini.”. (Shahih at Targhib wa at Tarhiib)
Jenis dan Ketentuan Hewan Kurban
Jenis hewan yang boleh dikurbankan adalah unta, sapi, kambing, dan domba. Hewan-hewan inilah yang masuk dalam kategori "Bahimatu Al-an'am", sebagaimana disebut dalam surat al Hajj ayat 28.
Beberapa ketentuan umum hewan kurban adalah hewan sembelihan itu telah mencapai usia tertentu;
1. Usia unta yang sah dijadikan hewan kurban adalah 5 tahun.
2. Usia sapi yang sah dijadikan hewan kurban adalah 2 tahun.
3. Usia kambing yang sah dijadikan hewan kurban adalah 1 tahun.
4. Usia domba yang sah dijadikan hewan kurban adalah 6 bulan..
Usia ketiga jenis hewan yang pertama disebut musinnah, maka jika seorang sulit untuk mendapatkan hewan dengan usia tersebut, bolehlah ketika itu berkurban dengan domba yang berusia 6 bulan (jadza'ah).
Dipersyaratkan pula bagi sahnya hewan kurban yaitu selamatnya hewan tersebut dari cacat yang nyata dan dapat menurunkan kualitas hewan itu, seperti hewan yang buta sebelah matanya dengan kebutaan yang jelas, hewan yang pincang dengan kepincangan yang jelas, hewan yang sakit dengan sakit yang jelas dan hewan yang sangat kurus tidak memiliki sumsum. Olehnya, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam memerintahkan seseorang yang akan menyembelih kurban untuk terlebih dahulu memeriksa mata, telinga dan giginya.
Beberapa Ketentuan Bagi Orang Yang Menyembelih
Bagi seorang yang akan menyembelih, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya untuk tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya ketika telah masuk awal Dzulhijjah. Namun ketentuan ini hanya berlaku bagi seorang yang akan menyembelih untuk dirinya. Tidak berlaku bagi petugas penyembelih (hewan kurban adalah milik orang lain), dan tidak juga berlaku bagi orang-orang yang diikutkan dalam sembelihan tersebut (keluarga pemilik kurban).
Di antara hukum yang berkenaan dengan penyembelih adalah sebaiknya yang menyembelih binatang kurban adalah orang yang hendak melaksanakan kurban, tetapi tidak mengapa diwakilkan kepada seorang yang mahir dalam penyembelihan. Maka bila ia mewakilkannya kepada seseorang, disunnahkan baginya untuk menyaksikan proses penyembelihan dan turut mengucapkan basmalah dan takbir bersama orang yang diwakilkan untuk menyembelih.
Ketika menyembelih hendaknya ia berkata;
بسم الله الله أكبر اللهم هذا منك و لك اللهم هذا عن فلان و عن آل فلان
“Dengan nama Allah, Allah maha besar. Ya Allah sembelihan ini merupakan nikmat dari-Mu dan hanya untuk-Mu. Ya Allah, sembelihan ini adalah dari Fulan (disebutkan nama orang yang memiliki sembelihan) dan juga dari keluarga Fulan.”.
Pembagian Kurban
Di antara hukum yang berkenaan dengan penyembelihan, hendaklah seorang yang menyembelih membagi daging kurban menjadi tiga bagian; sepertiga bagian untuk dirinya, sepertiga bagian untuk dihadiahkan dan sepertiga bagian untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin. Menyedekahkan hewan kurban kepada orang miskin -oleh sebagian ulama- adalah perkara wajib, karena maksud dari kurban adalah mengalirkan darah dan bersedekah.
Interval Waktu Penyembelihan
Waktu penyembelihan dimulai setelah khutbah shalat I'ed dan berakhir setelah masuknya waktu maghrib pada hari ke-3 setelah hari raya.
Menyertakan Orang Lain Dalam Ibadah Qurban
Dalam pelaksanaan ibadah qurban, boleh bersyarikat (kongsi) antara tujuh orang untuk menyembelih seekor unta atau sapi. Namun hal demikian tidaklah berlaku bila hewan kurban itu adalah kambing atau domba.
Bila hewan kurban berupa kambing atau domba, maka boleh menyertakan keluarga atau siapa saja dalam kurban yang dilakukan. Namun bila hewan kurban itu berupa sapi atau unta, maka tidak ada riwayat yang menyebutkan bolehnya mengikutkan orang-orang yang tidak menyembelih dalam ibadah kurban, sebagaimana kebolehan melakukan hal itu bila hewan kurban berupa kambing dan yang sejenisnya.
Upah Pemotong
Tidak boleh memberi upah berupa daging atau bagian tubuh lain dari hewan kurban kepada seorang yang ditugaskan untuk menyembelih hewan. Namun tidak mengapa mengupah mereka dengan memberi nominal tertentu selain dari hewan kurban. Demikian juga tidak mengapa menghadiahkan daging atau anggota tubuh lain dari hewan kurban kepada mereka, selama berupa hadiah dan bukan sebagai upah.
Akhirnya, semoga Allah menerima amalan-amalan shaleh kita dan berkenan menutupi segala tumpukan dosa dan kesalahan kita dengan amalan-amalan itu. Dialah Zat yang Maha Rahman dan maha menerima taubat. Walhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin.
Semangat Perubahan!
- - Majalah AlFirdaus
AF's Cover Story; Pinky in Love
- - Majalah AlFirdaus
Pinky in Love, merah muda dalam cinta. Sebuah warna yang menginspirasi sebagian shohib kita yang sedang berbunga-bunga di hatinya. Hmm, cinta pun menjadi indah tuk dibahas dan begitu mengesankan. Shohib AF, cinta Al Firdaus kali ini adalah cinta yang mengajak kamu kepada cinta sejati.
Ups… karena tentang cinta nih, AF menggambarkannya lewat sampul bernuansa pink, merekahkan bunga sakura yang indah, seindah hati pembaca Al Firdaus. Ehm, semoga aja deh!
Oh ya, ngomongin bunga sakura, pasti kamu ingatnya negeri Jepang. Negara yang memiliki varian bunga sakura yang paling banyak di dunia. Tahu nggak yang paling istimewa dari bunga ini…? Ya, betul! Waktu mekar bunga pada pohon sakura ini, cuma sepekan selama setahun di awal musim semi. Lalu layu kembali, mulai dari bunga pertama mekar hingga seluruh bunganya layu dalam waktu setengah bulan saja.
Nah, masa remaja yang sangat dekat dengan dunia cinta, tak jarang merasakan cinta sesaat, seperti ‘sesaatnya’ bunga sakura bermekaran. Eits, bukan berarti lho, bunga sakura identik dengan cinta sesaat. Justru karena sebentarnya bunga sakura mekar, konon orang Jepang memanfaatkan musim bunga terindah tersebut dengan menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang terdekat. Walau demikian, musim yang banyak di tunggu-tunggu itu hanya berlangsung dalam kurun waktu sepekan saja.
Itu orang Jepang, lain lagi dengan AF! So, Al Firdaus kepengen memanfaatkan waktu di bulan Februari-Maret ini untuk membahas cerita tentang cinta di berbagai rubriknya. Mulai cerita keindahannya sampai kemelut cinta yang biasa dialami para remaja. Pokoknya warna-warni nuansa nge-pink, shohib AF bisa dapatkan di edisi kali ini. Yuk, segera saja simak Al Firdaus edisi terbaru Pinky in Love!
#stafatSABAR
- - Majalah AlFirdaus
- Kamu muslim, maka kamu luar biasa! Saat musibah menimpa, SABAR menjadi pilihan utama. #stafatsabar
- Siapa bilang SABAR ada batasnya? Emosi kita saja yg kadang membatasinya. Selebihnya, bersabarlah senantiasa, lalu kelak temukan pahala yg tak terbatas atasnya! #stafatsabar
- SABAR itu pada pukulan pertama,kawan. Maka berlatihlah untuk dapat melakukannya segera saat cobaan itu menyapa! #stafatsabar
- Mengapa keSABARan terkadang begitu pahit? Sebab balasannya teramat manis. Percayalah! #stafatsabar
- Bukankah keSABARan itu tidak ada ruginya? Ia menenangkan jiwa, menyelamatkan lisan, dan menjaga dari keluh kesah. Maka, bersabarlah! #stafatsabar
- Indahnya keSABARan... Sebuah perintah yang menentramkan. Ibadah hati berbuah pahala melimpah. Dicontohkan para nabi dan rasul Allah!#stafatsabar
- SABAR bukan berarti lemah! Ia justru pertanda kekuatan jiwa. #stafatsabar
- Kita diperintahkan menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Maka mengapa kita merasa ragu untuk memulainya? #stafatsabar
- Kesanggupan berSABAR hanya milik orang2 berhati cahaya. Membias teduh pada wajahnya. Menjelma lembut pada tutur katanya. #stafatsabar
- Rasulullah meneladankan keSABARan tak bertepi. Sangat elok jika Kita sbg ummatnya juga belajar untuk itu: untuk SABAR! #stafatsabar
- Kami bersabar dgn deras hujan dan petir yg menyambar. Lalu tersenyum saat tergantikan oleh cerah dan pelangi yg melengkung indah. #stafatsabar
- Dan demikianlah hidup. Akan dipergilirkan kesulitan dgn kemudahan. BerSABAR hanyalah penantian pada kemudahan itu. #stafatsabar
- Betapa indahnya SABAR: layaknya kesabaran bunda saat melahirkan kita, dan sabarnya ayah waktu berpeluh mencari nafkah. Berbalas dgn anak shaleh/shalehah yg jg berhias kesabaran. Indahnya! #stafatsabar
#StafatCINTA
- - Majalah AlFirdaus
Bagi seorang muslim, CINTA, takut dan harap adalah bagian yang menyusun dirinya. CINTA adalah kepalanya, takut dan harap merupakan kedua belah tangannya. Ketiganya bersinergi untuk berdaya guna; ketiganya saling bertaut untuk ibadah padaNya. #stafatCINTA
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Buya HAMKA #stafatCINTA
CINTA itu menenangkan, menguatkan, dan membahagiakan. Maka saat mendapatinya tidak demikian, berhati-hatilah bahwa yang kau rasakan hanya sekedar nafsu berkedok CINTA. #stafatCINTA
Lihatlah bagaimana CINTA sejati bekerja! Sehingga seseorang rela berdiri di sepertiga malam, mengacuhkan raga yang lelah, lalu membersamai jiwanya yang kuat. Demi Allah, demi CINTA padaNya. #stafatCINTA
CINTA menunjukkan dirinya diantara belai lembut ibunda. Pada peluh ayah yang bekerja mencari nafkah, dan saat seorang anak mengangkat kedua belah tangannya, berdoa untuk pengampunan kedua orang tuanya. #stafatCINTA
Itulah CINTA! Saat mereka yang pernah terpaut jarak, tanpa ikatan darah, tanpa perkenalan sebelumnya, dipersaudarakan dengan ISLAM, lalu salah seorang diantaranya berkata; ambil sebagian hartaku untukmu saudaraku! #stafatCINTA
Itulah CINTA! Saat Abu Bakar hadir dengan infak SELURUH hartanya. Kepada keluarganya, dicukupkan dengan Allah dan RasulNya. #stafatCINTA
Itulah CINTA! Saat Mush'ab bin Umair meninggalkan kemewahan dunia. Ikut turun dalam kancah jihad. Lalu syahid menemuinya, dan kain penutupnya tak cukup menyelimuti tubuhnya yang mulia. Di syurga tempat akhirnya. #stafatCINTA
CINTA itu mencukupkan. Ia melahirkan kesyukuran saat nikmat datang. Dan memanggil kesabaran saat harapan tidak menjadi kenyataan. Indah, bukan? #stafatCINTA
CINTA itu menjaga. Maka saat kau merasakannya hanya mendatangkan hati yang tidak tenang, atau saat kehormatanmu justru menjadi taruhan untuk pembuktiannya, waspadalah bahwa ia hanya syahwat berkedok CINTA. #stafatCINTA
Begitulah CINTA, saat dakwah Rasulullah dibalas dengan caci maki dan lemparan batu. Tapi ada maaf di mulutnya, ada harap di hatinya; Kelak, dari kaum ini akan lahir manusia yang mentauhidkan Allah! #stafatCINTA
Lihatlah CINTA! Menyandarkan CINTA padaNya dan karenaNya saja! Maka kelak akan peroleh mimbar cahaya, dicemburui para Nabi dan syuhada... #stafatCINTA
Dan demikianlah CINTA, hadirnya berbuah ketaata. Kekuatan untuk menjalankan kewajiban, dan ketakutan pada maksiat di hadapNya. Demikianlah CINTA, maka mari mencoba menumbuhkannya dalam jiwa, padaNya saja. KarenaNya saja. #stafatCINTA
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31) #ayatCINTA dalam stafatCINTA
Formula Penghilang Noda
- - Majalah AlFirdaus
(Edisi AF Crew's Note)
The hardest part dari ritual minum jus itu adalah saat proses pencucian juicernya. Model juicer yang berlekuk-lekuk itu memungkinkan noda dari getah sayur-sayuran tadi tertinggal dengan warna hitam kecoklatan yang cukup mengganggu pandangan. Saat menyikat noda-noda itulah saya teringat akan noda lain yang juga lekat dengan kehidupan kita.
Jika noda pada pakaian atau pada tubuh kita akan membuat kita terganggu dan akan segera kita bersihkan, maka noda yang satu ini terkadang terlupa. Bahkan, dalam keadaan akut, noda-noda ini kadang dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Noda yang saya maksud adalah; dosa.
Yah, diumpakan setiap kita melakukan maksiat, akan ada satu titik noda hitam yang menempel di hati. Besar dan jumlahnya mungkin setara dengan seberapa besar maksiat itu sendiri. Orang yang terus menerus melakukannya, tanpa sadar akan sampai pada titik dimana hatinya akan dipenuhi dengan noda hingga akan menjadi hitam kelam dan keras. Maka jangan heran, jika mendapati diri dalam keadaan melimpah harta, keluarga yang aman-aman saja, prestasi yang berada di puncak tertinggi, atau kedudukan yang terhormat di mata manusia, tapi tetap merasa tidak tentram dan selalu ada yang dirasa kurang. Mungkin sebab hatinya kosong melompong dan hanya diisi oleh noda hitam yang mengerak.
Dalam sebuah lingkaran majelis, saya pernah mendengar cerita tentang Utsman bin Affan yang selalu sesunggukan hingga basah jenggotnya saat melewati perkuburan. Atau Khalid bin Walid yang menangis menatap Al Qur’an sebab merasa telah terlalaikan karena sibuk di medan jihad. Ada juga yang dengan perasaan bergejolak berucap bahwa ia akan lalui perjalanan panjang (setelah kematian) sementara perbekalan yang disiapkannya sangat sedikit.
Nah!
Jika mereka saja, yang hidup di masa Rasulullah, yang hatinya dicerahkan dengan cahaya Islam yang begitu paripurna, serta ibadah dan ketakwaannya adalah jaminan mutu, kemudian dapat dengan setakut itu menghadapi masa-masa pertanggung jawaban, lalu bagaimana dengan kita.
Ada sebuah kata-kata hikmah yang sangat indah; Jangan melihat sekecil apa maksiat yang kau lakukan, tapi lihatlah sebesar apa Dzat yang kau bermaksiat padaNya.
Ya, kita kadang tidak sadar pada dosa-dosa kecil yang mungkin terkumpul tiap detiknya. Sementara kita tahu betul bahwa bukit yang tinggi menjulang adalah kumpulan kerikil-kerikil kecil yang terkumpul menjadi satu.
Memang benar bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Maka sebab itulah Allah Yang Maha Pemurah memberikan kepada kita sebuah cara untuk dapat lepas dari jerat noda-noda itu; Taubat!
Masalahnya adalah, kita kadang memberi jeda yang terlalu lama untuk memulai pertobatan. Kita dengan mudah melakukan prokrastinasi –penundaan, untuk memutuskan berhenti dari maksiat, menyesal tentangnya, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Seolah-olah, kita tahu kapan datangnya saat kematian, seolah kita menjamin, bahwa hidup baru akan terhenti saat rambut telah memutih, badan membungkuk, dan gigi ompong satu persatu. Padahal begitu banyak kasus mati muda yang terjadi diluar sana, lebih parah lagi, kasus meninggal dalam keadaan maksiat yang sama sekali tidak ada kerennya!
Layaknya seperti juicer saya tadi, kadang saya menunda untuk mencucinya saat ada pekerjaan lain yang harus didahulukan. Hasilnya adalah, noda-nodanya akan lebih susah dibersihkan dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan jika dicuci segera setelah digunakan.
Maka ada beberapa cara Allah untuk ‘membersihkan noda’ kita. Mungkin dengan kesengsaraan atau rasa sakit yang kita derita. Jika dihadapi dengan ikhlas, maka ia adalah penggugur dosa layaknya berjatuhannnya daun di musim gugur, insya Allah. Tapi apakah kita akan menunggu untuk ‘disakiti’ dulu baru akan bertaubat? Lalu bagaimana jika ternyata kesempatan itu tidak datang dan kita ‘dibiarkan’ berkubang dalam maksiat?
Kawan, mungkin ada bagusnya jika kita menikmati keheningan sejenak. Bersendirianlah ditengah malam dan ingat kembali betapa banyak kemaksiatan yang kita lakukan. Ingatlah bahwa kepastian kematian akan datang, entah setelah kesempatan taubat kita dapatkan ataukah saat belum sempat kita mengakui kesalahan. Ingatlah bagaimana indahnya syurga yang mungkin akan begitu jauh bahkan tidak tercium wanginya jika kita tidak segera berubah. Ingatlah betapa ngerinya jahannam yang bahan bakarnya adalah batu dan manusia. Ingatlah saat kita berada di titik nol, lalu berdiri di hadapan Rabb pencipta kita, untuk bertanggung jawab atas setiap detik yang kita habiskan di dunia. Ingatlah dengan keyakinan bahwa itu adalah masa-masa kepastian yang kita akan sampai ke episodenya; cepat atau lambat.
Kawan, pintu pengampunannya terbuka lebar. Kukabarkan padamu tentang kedudukan orang-orang yang bertaubat di sisinya; dihapuskan dosa-dosanya! Demi Allah, akan dihapuskan dosa-dosanya! Dengannya, semoga kelak perjalanan kita akan lebih ringan, wajah pun lebih bercahaya, di hari dimana tidak ada lagi naungan selain naunganNya. Maka sampai kapan kita akan menunda? Ayo, bertaubat bersama!





