INSPIRASIAndSEMANGAT MUSLIM MUDA


Kerusuhan pecah. Bukan, bukan di daerah konflik dimana hal itu sudah menjadi santapan sehari-hari. Bukan pula di zona merah tempat deru senjata dan lemparan batu telah menjadi kebiasaan. Kisruh itu justru bergolak di tempat dimana seharusnya tercipta suasana yang aman, damai, dan kondusif untuk mengejar cita-cita dan meraih mimpi-mimpi. Ya, tawuran antarmahasiswa kembali terjadi! Lalu tidak cukup dengan kehebohan yang membuat banyak pihak bergidik ngeri, tawarun itu juga dibumbui dengan pengrusakan fasilitas kampus. Maka, tidak usah pertanyakan berapa besar kerugian yang harus dikecap dari kejadian ini, baik kerugian materil, maupun imateril.
Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi, apalagi dengan mengingat bahwa hal ini bukan pertamakali terjadi. Lalu mengapa seolah menjadi sesuatu yang begitu berat untuk meredam gejolak tawuran yang sepertinya memiliki musim layaknya kemarau dan penghujan tersebut? Yah, pengulangan-pengulangan yang menyakitkan tersebut membuat kita sudah seharusnya senantiasa mengevaluasi, memuhasabah diri kita sendiri, terutama bagi yang menyandang status sebagai seorang mahasiswa.
Betapa besarnya penghargaan tersebut sehingga kata ‘maha’ disematkan sebelum ‘siswa’. Ini seharusnya sudah cukup untuk menjadi lecutan bagi para penyandangnya untuk senantiasa berusaha untuk menjadi yang terbaik dan memberikan contoh positif di tengah-tengah masyarakat. Setelah melewati proses pendidikan di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah, ditambah dengan berbagai macam pelajaran di masa kuliah, bukan hanya tentang materi-materi perkuliahan secama khusus, tapi juga pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan secara umum. Kampus sudah seharusnya bukan hanya dimaknai sebagai tempat meraih gelar akademik, tapi juga sebagai universitas kehidupan tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan bermasyarakat.
Terkhusus kepada para mahasiswa muslim, mari kita menanggalkan segala bentuk rasa ujub yang justru mungkin timbul setelah berstatus mahasiswa. Lalu, dengan hati yang paling ikhlas, simaklah ayat berikut:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imran [3:]190-191)
Kawan-kawan mahasiswa muslim! Inilah ayat yang saat turunnya Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam menangis tersedu meneteskan air mata. Ayat ini menggambarkan bagaimana seharusnya profil seorang ulul albab (orang-orang yang berakal). Ulul albab yang bukan hanya unggul dalam hal pemikiran dan pengetahuan, tapi juga dapat menyeimbangkan antara dzikir dan fikir, selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun dan bertafakkur pada ayat-ayatNya yang membentang pada seluruh alam semesta. Maka kepada siapakah masyarakat mengharapkan figur ini ada? Ya, kepadamu: mahasiswa muslim yang mengemban amanah ummat!
Lalu tentulah menyedihkan rasanya menyaksikan bagaimana seorang mahasiswa, dengan Laa ilaha illallah berada di dadanya, dengan tega melempari dan melukai saudaranya sendiri! Tentu sangat memiriskan, melihat bagaimana mahasiswa yang mampu membaca ayat-ayat Al Qur’an itu merusak tempat belajarnya sendiri, sementara begitu banyak sekolah-sekolah adik-adik kita di luar sana yang ambruk dengan naas karena masalah biaya. Tentu memilukan, menjadi saksi angkara murka yang tidak pernah dicontohkan oleh teladan kita, Baginda Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam yang disegani kawan dan lawannya karena keunggulan akhlak!
Masyarakat dan ummat menantikan karya dan sumbangsih kita. Tulisan ini pun dibuat bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, apalagi menafikan setiap prestasi yang telah ditunjukkan di masa-masa yang telah terlewat. Tapi, kita tentunya tidak menginginkan potret buram ini terus terulang. Sebab, sebagaimana kita merindukan bumi yang lebih indah untuk dihuni, dengan pemimpin yang hangat dan peduli, kita pun sangat rindu pada sosok-sosok pemuda ulul albab; memiliki akal untuk berpikir jernih, hati yang peka untuk kebaikan, serta selalu mengingat Allah dalam setiap perbuatannya. Lalu, menjadilah ia rahmat bagi semesta alam. Semoga. (Ar)

This entry was posted in Thank you for reading !! Barakallahu fiik .

1 comments:

stupid monkey said...

inget ta'lim mutaalimin :p

Post a Comment

Silakan berkomentar!

Followers

Subscribe via Email

Enter your email address:

Cara Kirim Tulisan

Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Yang tulisannya dimuat, Insya Allah akan mendapat imbalan. Tulisan yang masuk akan menjadi milik redaksi dan tidak dikembalikan. Jangan lupa sertakan biodata singkat di akhir tulisan. Berminat? Silakan kirimkan tulisan via email ke redaksialfirdaus@yahoo.com