INSPIRASI
SEMANGAT MUSLIM MUDA
Showing posts with label Cerita Kamu. Show all posts
Showing posts with label Cerita Kamu. Show all posts
Semarak Gema Takbir di Tanah Mandar
- - Majalah AlFirdaus
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Oke sekarang marilah kita menengok
sejenak ke suatu kampong di belahan bumi Sulawesi Barat, tepatnya di PolMan (Polewali
Mandar), PolMas (Polewali Mamasa) dulu adalah nama yang pertama kali disematkan
untuk kota ini tapi semenjak beberapa tahun lalu nama Polman pun telah menjadi
ciri khas dari kota ini, yaa mungkin karena sekarang tanah ini lebih banyak “dihuni”
oleh orang Mandar.
Sudah
menjadi rahasia umum bahwa ramadhan di “kampong” sedikit lebih bermakna
daripada merayakan di kota. Itulah yang kami rasakan setelah kata mudik lebaran,
menjadi sebuah tradisi lagi setelah hampir 3 tahun kami lewatkan.
Malam
takbiran di kampong selalu lebih bermakna, seperti halnya di Polman sudah
menjadi tradisi setiap malam takbiran ratusan hingga ribuan warga memadati sisi
jalan untuk menyaksikan puluhan bahkan ratusan kendaraan roda dua atau pun roda
empat yang melakukan pawai perayaan malam takbiran. Kendaraan-kendaraan itu pun
di hiasi dengan miniatur mesjid diiringi dengan suara gema takbir. Allahu
Akbar!
Hal
ini pun merupakan suatu momen yang sangat berharga dan hiburan tersendiri bagi
masyarakat, apalagi malam takbiran hanya dirayakan setahun sekali. Bunyi
petasan dan letusan kembang api pun turut menambah keindahan warna langit malam
itu.
Malamnya yang
menggema, dan paginya yang cerah! Shalat ied sendiri di pusatkan di Lapangan
Pancasila, lapangan ini cukup luas, di lapangan ini memang sering di adakan
beberapa kegiatan-kegiatan yang menyangkut dengan acara pemkot Polman. Dan yang
memberi kata sambutan juga langsung dari pemimpin kota, bapak Bupati. Setelah
pelaksanaan shalat ied masyarakat berbondong-bondong bersalaman dan
bersilaturrahim ke rumah jabatan bapak Bupati Polman yang memang berada tepat
disebelah Selatan lapangan ini.
Lebaran di kampung
halaman memang lebih sering meninggalkan bekas yang mendalam lebih dari di
kota, mulai dari adzan maghrib yang pertanda bahwa ramadhan telah pergi dan
syawal telah menyambut, detik jarum jam pada malam itu pun terasa lebih lama
berputar, ditemani dengan alun-alunan pawai keliling yang telah jauh-jauh hari
di siapkan yang menggema menyeruhkan kalimat takbir.
Itulah
mungkin untaian kata yang bisa menggambarkan suasana idul fitri di tanah anak
mandar, Polman, Sulawesi Barat… Tidak seperti di kota-kota pada umumnya,
suasama malam takbiran tidak begitu terasa, karena masing-masing rumah
mempunyai kesibukannya masing-masing, beda ibu kota, beda pedesaan, suasanya
masing begitu hangat.
Ya
itulah sekelumit kisah menakjubkan, menghabiskan malam di kampong halaman kami,
lalu bagaimana di tempat kalian?? ^_^ (UK)
Saat Sampai di Thaifmu, Istirahatlah Sejenak Pada Kisah Ini
- - Majalah AlFirdaus
Jalan dakwah adalah jalan yang sejatinya sangat indah. Di penghujungnya telah dijanjikan oleh Allah begitu banya karunia kepada orang yang istiqomah di dalamnya. Namun, tak dapat dipungkiri betapa terjal dan penuh dengan tantangannya jalan ini. Dimana-mana ada halang dan rintangan, baik dari dalam diri, maupun dari luar.
Kadang kita sakit hati saat menyaksikan kegiatan keagamaan yang begitu sepi pengunjung, sementara konser music dan acara sejenis lainnya dipehunuhi oleh banyak orang. Kadang kita harus menerima pil pahit saat ada saja orang yang menyakiti hati karena menganggap apa yang kita lakukan tidak lagi sesuai dengan jaman dan tidak berarti. Tak jarang kita harus meneguhkan diri diantara orang-orang yang seolah tidak mau mengerti dan bahkan memicingkan mata dengan ejekan karena penampilan kita yang dianggap asing.
Namun, sesungguhnya kita sudah benar-benar tahu bahwa hal ini bukan pertama kita yang mengalami. Jauh sebelum kita, bahkan manusia paling mulia-pun mengalami hal yang mungkin jauh lebih menyakitkan lagi…
Pada bulan Syawwal tahun ke-10 dari kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau Juni tahun 619 M Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam keluar menuju Thaif yang letaknya sekitar 60 mil dari kota Mekkah. Beliau datang dan pergi kesana dengan berjalan kaki, didampingi budak beliau (ketika itu), Zaid bin Hâritsah. Setiap melewati perkampungan sebuah kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam namun tidak satupun yang memberikan responsnya. Tatkala tiba di Thaif, beliau mendekati tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka kabilah Tsaqîf. Mereka masing-masing bernama ‘Abd Yalail, Mas’ud dan Habib. Ayah mereka bernama ‘Amru bin ‘Umair at-Tsaqafiy. Beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam duduk-duduk bersama mereka sembari mengajak mereka kepada Allah Ta’ala dan membela Islam.
Salah seorang dari mereka berkata: “Jika Allah benar-benar mengutusmu, maka Dia akan merobek-robek pakaian ka’bah”. Yang seorang lagi berkata: “apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?” Orang terakhir berkata: “Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu! Jika memang engkau seorang Rasul tentu engkau adalah bahaya besar bila aku menjawab pertanyaanmu dan jika engkau seorang pendusta terhadap Allah, maka tidak patut pula aku berbicara denganmu”.
Lalu beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka:”Jika kalian melakukan apa yang ingin kalian lakukan, maka rahasiakanlah tentang diriku”.
Rasulullah berdiam di tengah penduduk Thaif selama sepuluh hari. Dan selama masa itu, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan para pemuka mereka. Sebaliknya, jawaban mereka hanyalah: “keluarlah dari negeri kami”. Mereka membiarkan beliau menjadi bulan-bulanan orang-orang iseng di kalangan mereka. Maka, tatkala beliau ingin keluar, orang-orang iseng tersebut beserta pengabdi mereka mencaci-caci dan meneriaki beliau sehingga khalayak berkumpul. Mereka menghadang beliau dengan membuat dua barisan lalu melempari beliau dengan batu dan ucapan-ucapan tak senonoh serta mengarahkannye ke urat diatas tumit beliau sehingga kedua sandal yang beliau pakai bersimbah darah.
Zaid bin Hâritsah yang bersama beliau, menjadikan dirinya sebagai perisai untuk membentengi diri beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam. Tindakan ini mengakibatkan kepalanya mengalami luka-luka sementara orang-orang tersebut terus melakukan itu hingga memaksanya berlindung ke tembok milik ‘Utbah dan Syaibah, dua orang putera Rabi’ah yang terletak 3 mil dari kota Thaif. Manakala sudah berlindung disana, merekapun meninggalkannya.
Beliau menghampiri sebuah pohon anggur lalu duduk-duduk dan berteduh di bawah naungannya menghadap ke tembok. Setelah duduk dan merasa tenang kembali, beliau berdoa dengan sebuah doa yang amat masyhur. Doa yang menunjukkan betapa hati beliau dipenuhi rasa getir dan sedih terhadap sikap keras yang dialaminya serta menyayangkan tidak adanya seorangpun yang beriman. Beliau mengadu:”Ya Allah! Sesungguhnya kepada-Mu lah aku mengadu kelemahan diriku, sedikitnya upayaku serta hinadinanya diriku di hadapan manusia, wahai Yang Paling Pengasih diantara para pengasih! Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkaulah Rabbku, kepada siapa lagi Engkau menyerahkan diriku? (apakah) kepada orang yang jauh tetapi bermuka masam terhadapku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak ambil peduli, akan tetapi ‘afiat yang Engkau anugerahkan adalah lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan perantaraan Nur wajah-Mu yang menyinari segenap kegelapan dan yang karenanya urusan dunai dan akhirat menjadi baik agar Engkau tidak turunkan murka-Mu kepadaku atau kebencian-Mu melanda diriku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau menjadi ridla. Tidak daya serta upaya melainkan karena-Mu”.
Kedua putra Rabi’ah yang menyaksikan hal itu menjadi tergerak rahim nya sehingga mereka memanggil seorang hamba beragama Nashrani yang mengabdi kepada mereka bernama ‘Addas sembari berkata kepadanya: “ambillah setandai anggr ini dan bawakan untuk orang tersebut”. Tatkala dia menaruhnya diantara kedua tangan Rasulullah, beliau mengulurkan tangannya untuk menerimanya sembari membaca: “bismillah”, lalu memakannya.
‘Addas berkata: “Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini. Lantas Rasulullah bertanya kepadanya: “kamu berasal dari negeri mana? Dan apa agamamu?”.
Dia menjawab: “Aku seorang Nashrani dari penduduk Ninawy (Nineveh)”.
Rasulullah berkata lagi: “dari negeri seorang shalih bernama Yunus bin Matta?”.
Orang tersebut berkata:” apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?”.
Beliau menjawab: “dia adalah saudaraku, seorang yang dulunya adalah Nabi, demikian pula dengan diriku”.
Dia menjawab: “Aku seorang Nashrani dari penduduk Ninawy (Nineveh)”.
Rasulullah berkata lagi: “dari negeri seorang shalih bernama Yunus bin Matta?”.
Orang tersebut berkata:” apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?”.
Beliau menjawab: “dia adalah saudaraku, seorang yang dulunya adalah Nabi, demikian pula dengan diriku”.
‘Addas langsung merengkuh kepala Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam, kedua tangan dan kedua kakinya lalu diciuminya.
Sementara masing-masing dari kedua putera Rabi’ah, berkata salah satunya kepada yang lain: “pembantumu itu telah dibuatnya menentangmu”.
Maka, tatkala ‘Addas datang, keduanya berkata kepadanya: “celakalah dirimu! Apa yang terjadi dengan dirimu ini?”
“Wahai tuanku! Tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang lebih baik dari orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku suatu hal yang hanya diketahui oleh seorang Nabi”. Jawabnya.
“Celakalah dirimu, wahai ‘Addas! Jangan biarkan dia memalingkanmu dari agamamu sebab agamamu lebih baik dari agamanya”, kata mereka berdua.
Setelah keluar dari tembok tersebut, Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam pulang menuju Mekkah dengan perasaan getir dan sedih serta hati yang hancur lebur. Tatkala sampai di suatu tempat yang bernama Qarn al-Manâzil, Allah mengutus Jibril kepadanya bersama malaikat penjaga gunung yang menunggu perintahnya untuk meratakan al-Akhasyabain (dua gunung di Mekkah, yaitu gunung Qubais dan yang di seberangnya, Qu’ayqa’ân-red) terhadap penduduk Mekkah”.
Imam al-Bukhary meriwayatkan rincian kisah ini dengan sanadnya dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya ‘Aisyah radliallâhu 'anha bercerita kepadanya bahwa dia pernah berkata kepada Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam : “Apakah engkau menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang Uhud?”.
Beliau bersabda: “Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaummu, tetapi perlakuan mereka yang paling berat adalah pada waktu di ‘Aqabah ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abd Yalail bin ‘Abd Kallal tetapi dia tidak merespons apa yang aku maui sehingga aku beranjak dari sisinya dalam kondisi bermuram muka karena sedih. Ketika itu, aku belum tersadarkan kecuali sudah di dekat tepat yang bernama Qarn ats-Tsa’âlib (sekarang disebut Qarn al-Manâzil). Waktu aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku, lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku. Dia berkata: “sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan respons mereka terhadapmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka”.
Beliau bersabda: “Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaummu, tetapi perlakuan mereka yang paling berat adalah pada waktu di ‘Aqabah ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abd Yalail bin ‘Abd Kallal tetapi dia tidak merespons apa yang aku maui sehingga aku beranjak dari sisinya dalam kondisi bermuram muka karena sedih. Ketika itu, aku belum tersadarkan kecuali sudah di dekat tepat yang bernama Qarn ats-Tsa’âlib (sekarang disebut Qarn al-Manâzil). Waktu aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku, lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku. Dia berkata: “sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan respons mereka terhadapmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka”.
Malaikat penjaga gunung tersebut memanggilku sembari memberi salam kepadaku, kemudian berkata: “wahai Muhammad! Hal itu terserah padamu; jika engkau menginginkan aku meratakan mereka dengan al-Akhasyabain, maka akan aku lakukan.
Nabi menjawab: “bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah ‘Azza Wa Jalla semata, Yang tidak boleh disekutukan dengan sesuatupun”.
Nabi menjawab: “bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah ‘Azza Wa Jalla semata, Yang tidak boleh disekutukan dengan sesuatupun”.
Melalui jawaban yang diberikan oleh Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam ini tampaklah sosok unik yang tiada duanya dari kepribadian dan akhlaq beliau yang demikian agung yang sulit untuk diselami.
Maraji': Sirah Nabawiyah
sumber gambar
“Kutemukan cahaya dalam Redupnya Hidup Ini”
- - Majalah AlFirdaus
Asyiiiiiik…….! Aku masuk SMU…! Kata orang, semua yang seru-seru akan kita dapatkan. Ehm…., apalagi kalau sekolah yang kita tempati adalah sekolah unggulan, alias terkenal! Terkenal kualitasnya, terkenal gaulnya,terkenal semua-muanya deh!
Deg-deg-deg... Perasaan hati ini deg-degan menanti pengumuman hasil tes, apakah aku bisa lulus ke sekolah yang aku inginkan atau tidak?!? Aku mendaftar di salah satu sekolah negeri yang cukup terkenal dan terletak di tengah-tengah kota....
Dan hari yang dinantikan pun tiba. Karena banyak pendaftar dari daerah lain yang nilainya cukup bagus dan hanya beda koma, nilaiku tidak cukup, dan aku tidak lulus…! Hiks…hiks..hiks...Ayah dan ibu pun ikut sedih mengingat prestasiku di sekolah dulu baik, namun kali ini aku tidak ditakdirkan untuk lulus.
Keesokan harinya ibu masih tetap keluar mencarikanku sekolah. Aku menunggu di rumah dan tiba-tiba dering telpon rumahku pun berbunyi, ternyata telefon dari ibu, ibu berhasil mendapat info bahwa salah satu sekolah yang terkenal ternyata kekurangan siswa karena banyak pendaftar yang nilainya tidak mencukupi target sekolah tersebut, ibu sangat optimis bahwa aku bisa lulus. Akhirnya aku pun bergegas ke sekolah tersebut dengan membawa semua berkas yang dibutuhkan karena waktu pendaftarannya terbatas sampai sore hari.
Alhamdulillah aku lulus! Betapa senangnya aku dan ke dua orangtuaku. Allah menyuruh kita tidak putus asa dan tetap berusaha dari kegagalan yang ada di hadapan kita, jika kita sabar dan ridho menerima takdir dari Allah akan ada ganti yang lebih baik. Aku bahkan lulus di sekolah yang lebih bagus dari tempat aku mendaftar awalnya.
Hari ini pertama aku duduk di kelas baruku. Setelah tes penempatan kelas, aku berhasil duduk di kelas unggulan. Wets, banyak saingan nih?!? Mesti belajar yang tekun dong! Ayo semangat…! Tiga bulan pertama aku berusaha untuk selalu bersaing di kelas itu, seluruh tugas sekolah dan rumah berusaha untuk kukerjakan. Hingga tiba suatu hari dimana semangat hidupku seakan hilang dan redup dengan kejadian yang sangat mengguncangkan, ayah ibuku harus berpisah! Hal itu berarti keluargaku akan mengalami broken home…!!! Ibuku bahkan pergi dari rumah, hatiku sangat sedih…
Akhirnya aku tinggal bersama ayah yang super sibuk. Dari pagi sampai malam bekerja, aku pun jadi tidak betah tinggal di rumah dan kurang bersemangat lagi belajar di sekolah, tidak jarang aku terkadang menangis jika mengingat kejadian di rumah. Tanpa kebersamaan orangtuaku aku terasa tak mempunyai tujuan hidu. Pola hidupku jadi tidak teratur termasuk pola makan dan mengatur waktu. Kebanyakan aku menghabiskan waktu dengan organisasi di sekolah. Tapi apa yang aku dapat justru semakin capek dan tidak bersemangat.
Ya Allah sampai kapan ini semua akan aku jalani…!
Ya Allah berikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini walau tanpa orang tua yang senantiasa mendampingiku!
Mendekati ujian semester banyak jadwal pelajaran tambahan yang diberikan guru. Hari Jum’at aku ada tambahan pelajaran matematika setelah shalat jum’at, itu artinya aku harus menunggu di sekolah dari jam 11 sampai 13.30 karena rumahku jauh dari sekolah jadi tidak mungkin aku pulang. Huh…! Bosan rasanya menunggu di kelas… Tiba-tiba ada sebuah ajakan yang menghampiriku
“Yuk kita ikut kamat!!!”
Aku pun bertanya segala hal tentang kamat. Ternyata kamat adalah kajian jum’at, di sana kita bisa mendengar ceramah agama Islam. Awalnya aku setengah-setengah ikut, tapi dengan berbagai kata yang dilontarkan untuk mengajakku hatiku pun tertarik dan penasaran. Akhirnya aku ikut,awal aku melangkah ke kelas itu sapaan hangat kakak kelas menyambutku.
”Assalamu ‘alaikum de,,ayo masuk..siapa namanya??”
Wow…sapaannya begitu menyentuh hatiku…Di organisasi lain syukur-syukur kalau kita disapa, yang ada tabe-tabe senior (alias senioritas, junior harus menghormati dan mengikuti perintah senior).
Kemudian dari balik pintu datanglah seorang kakak berpenampilan sperti ustadzah, jilbabnya panjang sampe menutupi tangannya (ehm…, kalau diperhatikan kayak mukena yang kita pakai kalau mau shalat)..Wow aku bertanya-tanya kenapa dia memakai jilbab yang pauanjaaang banget kayak mau shalat aja tapi bukan mukena,kakak itu memakainya kemana-mana. Setiap datang warna jilbabnya disesuaikan dengan bajunya, setiap aku memperhatikan penampilan kakak itu, rasanya aku ingin bertanya kenapa kita berpakaian seperti ini?? Apa tidak kepanasan…? Aku jadi penasaran…
Setelah beberapa kali ikut kamat aku jadi termotivasi agar shalat tepat pada waktunya, karena shalat adalah amalan yang pertama kali di hisab. Shalat adalah tiang agama, maka apabila shalat kita baik maka amalan yang lain pun insyaAllah akan baik. Lalu aku diajak tarbiyah (privat kajian agama islam), biasa yang kudengar privat bahasa inggris or matematika, di tarbiyah ini kita bisa mempelajari islam lebih mendalam dan bebas bertanya langsung. Wah mau dong…! Pertanyaan-pertanyaan tentang agama sudah sangat banyak di kepalaku. Karena itulah, aku akhirnya memutuskan untuk ikut tarbiyah.
Dan apa yang kurasakan??? Aku merasakan suatu ketenangan dari semua masalah yang terjadi di rumah, karena aku merasakan kedekatan dengan Allah. Dari tarbiyah, aku juga belajar akan arti sebuah kejujuran dan persaudaraan (ukhuwah) karena Allah dalam hidup. Yup kejujuran! Kita dipahamkan agar selalu bersikap jujur karena Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan..Good bye nyontek…!
Ada pula persaudaraan dimana kita bisa saling tolong menolong, nasehat-menasehati dan saling mendoa’kan. Selamat tinggal senioritas...! Yang aku butuhkan persaudaraan yang tulus karena Allah…Wah indahnya!!!
Kini aku juga udah tau alasan mengenakan jilbab yang kayak mukena itu. Semua ada perintahnya di Al Qur’an.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...” (QS. An Nuur [24]:31)
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab [33]: 59)
Kita khan harus beriman kepada Al Qur’an, artinya menjalankan perintah di Al Qur’an seperti shalat,berpuasa dll..So, Kenapa tidak dengan memakai jilbab yang sesuai dengan syariat yang diperintahkan dalam Al qur’an. Aku akan menjadi muslimah yangberpakaian sesuai dengan perintah syariat. Tidak takut..aku tidak takut kepanasan karena panas neraka jauh lebih dahsyat panasnya ketika kita tidak melakukan perintah Allah dalam Al qur’an..Ih takuuuut,nauzdubillah min zalik!
Hari-hariku kini jadi lebih bermakna dengan iman yang tertanam dalam hatiku, dari tarbiyah aku diajar agar tetap berbakti dan berbuat baik sama orangtua meskipun mereka telah mengecewakanku. Aku juga kini lebih mandiri mengurus semua pekerjaan di rumah. Aku merasa beruntung di banding mungkin teman sebayaku disekolah yang jangankan mengurus rumah, pakaiannya aja masih dicucikan! Suatu kekuatan yang luar biasa yang kudapat mungkin inilah yang dinamakan hikmah dibalik musibah jika kita menghadapi musibah itu dengan rasa tawakkal kepada Allah. Yuk…,kembali kepada Allah! Ingat dasar di ciptakan manusia!
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat [51]:56)
Saudariku, apapun yang engkau alami di hidup ini tetaplah tegar di jalan Allah! Tiada yang patut kita sesali kecuali waktu yang telah berlalu yang kita lewati tanpa melakukan suatu amal kebaikan. Amal kebaikan yang akan menghantarkan kita ke cita-cita semua ummat, yaitu ke syurga-Nya. (dF@s)
Popular Posts
-
Shohib AF, mungkin jika ada orang yang bertanya tanggal sama kamu, kamu akan dapat menjawabnya secara langsung. Mungkin, dengan sedikiti ...
-
Kamu muslim, maka kamu luar biasa! Saat musibah menimpa, SABAR menjadi pilihan utama. #stafatsabar Siapa bilang SABAR ada batasnya? Emosi...
-
Bismillaaahirrahmaanirrahiim “Apakah kamu masih pernah mengingatnya?” , tanya seorang kawan saat kami sedang dalam perjalanan ke rumah m...
Category List
AlFirdaus on Date
(7)
Artikel Islami
(11)
Artikel Tsaqofah
(3)
Cerita Kamu
(3)
Event
(2)
Nasihat Untuk Hati
(9)
Poster Islami
(2)
Ucapan Selamat
(2)
Followers
Subscribe via Email
Cara Kirim Tulisan
Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Yang tulisannya dimuat, Insya Allah akan mendapat imbalan. Tulisan yang masuk akan menjadi milik redaksi dan tidak dikembalikan. Jangan lupa sertakan biodata singkat di akhir tulisan. Berminat? Silakan kirimkan tulisan via email ke redaksialfirdaus@yahoo.com



